Sumber daya manusia mumpuni dalam mengatasi ancaman siber menjadi sebuah keniscayaan. Serangan terhadap data pribadi, layanan publik, hingga infrastruktur vital negara bukan lagi sekadar potensi, melainkan risiko nyata.
Menjawab tantangan tersebut, perusahaan keamanan siber asal Korea Selatan, Stelien, menyelenggarakan pelatihan terhadap tenaga keamanan siber Indonesia. Program ini merupakan bagian dari inisiatif "Pengembangan Kompetensi Ahli Keamanan Siber Indonesia" yang didukung oleh Korea International Cooperation Agency (Koica).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pelatihan berlangsung selama dua minggu, mulai 10 hingga 23 Januari 2026, dan diikuti oleh perwakilan dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Politeknik Siber dan Sandi Negara (PSSN), serta sejumlah institusi strategis lain di bidang keamanan siber. Dalam proyek ini, Stelien bekerja sama dalam konsorsium bersama Universitas Ajou dan Solutek System.
Kegiatan pelatihan diselenggarakan di Universitas Ajou, Korea Selatan, dengan agenda yang mencakup pengelolaan kurikulum pendidikan keamanan siber, pengoperasian sistem, hingga kunjungan langsung ke Korea Internet & Security Agency (KISA) Academy.
Program ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas tenaga pendidik dan pengelola sistem sebagai bagian dari persiapan pendirian Pusat Pelatihan Keterampilan Profesional Keamanan Siber di Indonesia, yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2027.
Nantinya, para peserta pelatihan diharapkan dapat berperan sebagai pengajar, staf administrasi pendidikan, serta pengelola sistem di pusat pelatihan tersebut. Pada pelatihan kali ini, rombongan peserta dipimpin langsung oleh Wakil Direktur PSSN, dengan jumlah sekitar 30 dosen dan 10 staf praktisi.
Salah satu peserta, Septia Ulfa, menyebut pelatihan ini sebagai pengalaman yang sangat berharga. Menurutnya, program tersebut memungkinkan peserta untuk mempelajari secara langsung sistem pendidikan dan praktik operasional keamanan siber yang diterapkan di Korea Selatan, yang dinilai lebih matang dan terstruktur.
Ke depan, konsorsium Stelien berencana melanjutkan rangkaian kegiatan melalui pelatihan undangan bagi pejabat tinggi Indonesia pada Februari 2026, serta pelatihan jangka menengah bagi dosen lokal yang dijadwalkan berlangsung pada Maret hingga Agustus 2026.
Kepala Tim Proyek Sektor Publik Stelien, Kim Deok-yoon, mengatakan pelatihan ini menjadi bagian penting dari program KOICA dalam membangun kapasitas tenaga lokal.
"Pelatihan undangan ini memberikan kesempatan bagi peserta Indonesia untuk memahami langsung lingkungan pendidikan serta praktik operasional keamanan siber di Korea Selatan. STEALIEN akan terus menjalin kerja sama berkelanjutan dalam pembangunan sistem pengembangan sumber daya manusia keamanan siber di Indonesia," ujarnya.
Sebagai perusahaan offensive security yang didukung oleh para white hacker berstandar global, Stelien memiliki sejumlah lini bisnis utama, mulai dari solusi keamanan aplikasi mobile AppSuit, layanan red team penetration testing dan konsultasi keamanan, riset dan pengembangan teknologi peretasan dan keamanan, hingga pengoperasian platform pelatihan siber Cyber Drill System.
(agt/agt)

