China Dituduh Gelar Serangan Siber ke Ukraina Sebelum Invasi Rusia

China Dituduh Gelar Serangan Siber ke Ukraina Sebelum Invasi Rusia

Rachmatunnisa - detikInet
Minggu, 03 Apr 2022 09:25 WIB
Pertama Kali, Uni Eropa Kenakan Sanksi Terhadap Peretas Rusia dan Cina Atas Serangan Cyber
Foto: DW (News)
Jakarta -

Sebuah laporan menyebutkan China meluncurkan serangan siber terhadap militer Ukraina dan target nuklir, sesaat sebelum invasi Rusia ke negara tersebut.

Pemerintah Inggris mengkonfirmasi bahwa National Cyber Security Centre sedang menyelidiki tuduhan tersebut, yang mengklaim bahwa lebih dari 600 situs web, termasuk kementerian pertahanan Ukraina, menjadi sasaran ribuan upaya peretasan yang dikoordinasikan oleh pemerintah China.

"National Cyber Security Centre sedang menyelidiki tuduhan ini dengan mitra internasional," kata juru bicara pemerintah Inggris, dikutip dari The Guardian.

Klaim tersebut didasarkan pada memo intelijen yang diperoleh Times. Layanan keamanan Ukraina, SBU, menuduh China tampaknya telah memiliki informasi sebelumnya tentang invasi tersebut karena upaya peretasan dimulai sebelum akhir Olimpiade Musim Dingin di Beijing dan mencapai puncaknya pada 23 Februari, sehari sebelum Rusia menginvasi tetangganya.

"Target serangan lainnya termasuk pasukan pertahanan perbatasan dan bank nasional. Upaya itu dirancang untuk mencuri data dan mencari cara untuk mengganggu atau mematikan infrastruktur pertahanan dan sipil," kata SBU.

Meskipun Rusia diyakini berada di balik sejumlah serangan siber di Ukraina menjelang konflik, SBU mengatakan pihaknya juga mendeteksi peretasan yang memiliki ciri khas unit perang cyber Tentara Pembebasan Rakyat. SBU mengatakan telah melihat peningkatan serangan eksploitasi jaringan komputer (computer network exploitation/CNE) yang digunakan untuk pengintaian dan spionase.

Times mengatakan SBU telah memberikan serangkaian memo intelijen, yang diperkirakan disiapkan oleh negara lain, yang merinci skala peretasan dan termasuk target nuklir.

"Intrusi yang menjadi perhatian khusus termasuk kampanye CNE yang diarahkan pada Inspektorat Peraturan Nuklir Negara, dan Situs Investigasi Ukraina yang berfokus pada Limbah Berbahaya," demikian bunyi salah satu memo.

"Serangan CNE khusus oleh program siber China ini termasuk peluncuran ribuan eksploit dengan upaya yang menunjukkan setidaknya 20 kerentanan yang berbeda," sebut memo itu.

Pada tanggal 18 Maret Presiden AS Joe Biden, memperingatkan Presiden China Xi Jinping, tentang "konsekuensi" jika China memberikan dukungan material kepada Rusia selama invasi.

Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin bertemu di Beijing pada awal Olimpiade Musim Dingin pada bulan Februari dan mengeluarkan pernyataan bersama yang mengatakan bahwa ikatan antara kedua negara tidak memiliki batas.

Keduanya juga memperjelas dalam pernyataannya bahwa mereka menentang ekspansi lebih lanjut dari NATO. Segera setelah itu, menurut SBU, terjadi peningkatan serangan CNE terhadap target Ukraina.

Simak Video 'Pertamina Berencana Beli Minyak dari Rusia, Pengamat: Rugi Secara Diplomatik':

[Gambas:Video 20detik]



(rns/fyk)