Google: 2 dari 3 Orang Indonesia Pernah Alami Kebocoran Data

Google: 2 dari 3 Orang Indonesia Pernah Alami Kebocoran Data

Virgina Maulita Putri - detikInet
Rabu, 03 Nov 2021 22:40 WIB
Jakarta -

Belakangan ini kasus kebocoran data terus meramaikan ranah siber di Tanah Air. Berdasarkan hasil riset Google, rupanya banyak pengguna internet Indonesia yang menjadi korban kebocoran data.

Riset yang dilakukan Google bersama YouGov pada September 2021 menemukan bahwa 2 dari 3 pengguna internet di Indonesia pernah mengalami kebocoran data pribadi atau mengenal orang yang pernah mengalaminya. Riset ini menyasar lebih dari 13.000 responden di 11 negara Asia Pasifik.

"Rupanya kejadian tersebut tidak cukup untuk mendorong pengguna untuk mengubah kebiasaan mereka karena kita juga lihat bahwa sebanyak 89% pengguna masih mempertahankan kebiasaan menggunakan sandi yang lemah," kata Product Marketing Manager Google Indonesia Amanda Chan dalam media briefing virtual, Rabu (3/11/2021).

Amanda mengatakan 92% pengguna internet Indonesia memiliki kebiasaan berinternet yang kurang aman. Selain menggunakan kata sandi yang lemah, 79% responden di Indonesia juga menggunakan kata sandi yang sama untuk beberapa akun sekaligus.

Bahkan 2 dari 5 responden mengatakan mereka menggunakan kata sandi yang sama untuk 10 situs yang berbeda. 40% responden beralasan mereka kesulitan mengingat sandi, dan 30% mengatakan demi kemudahan.

Kebiasaan buruk pengguna internet Indonesia lainnya adalah menyimpan kata sandi secara sembarangan. Alih-alih menggunakan password manager, hampir 1 dari 4 responden di Indonesia mengaku menyimpan kata sandinya di aplikasi Catatan atau Notes di ponsel, padahal aplikasi itu tidak terenkripsi.

Risiko kebocoran data juga datang dari kebiasaan pengguna internet Indonesia berbagi password. Google menemukan 3 dari 5 responden berbagi password dengan teman atau keluarga untuk akun layanan streaming, pesan antar makanan, dan e-commerce.

"Mungkin Anda berpikir oh mungkin di akun YouTube saya tidak ada informasi yang berhubungan sama keuangan, ini bukan masalah yang besar. Tapi kami juga ketemu bahwa 74% dari responden yang menyimpan informasi secara online juga memberitahukan sandi kepada teman dan keluarga," jelas Amanda.

Amanda juga menambahkan bahwa masih banyak pengguna internet Indonesia yang belanja online di situs yang tidak aman, sehingga datanya bisa jadi sasaran empuk penjahat siber. Hal ini cukup mengkhawatirkan terutama menjelang periode pesta belanja online 11.11.

Riset Google juga mengungkap temuan yang lebih positif. Misalnya, 67% responden mengaku akan sangat mungkin mengaktifkan otentikasi dua langkah (2FA) meski tidak diharuskan. 2 dari 3 juga mengatakan mereka sangat mungkin menggunakan password manager, meski baru 5% yang melakukannya.

"jadi kita bukan cuma reaktif saja tapi kita juga harus membuat digital habit yang preventatif juga ya,"ucap Amanda.

(vmp/vmp)