Pendiri Telegram Ikut Diincar Spyware Pegasus

Pendiri Telegram Ikut Diincar Spyware Pegasus

Virgina Maulita Putri - detikInet
Kamis, 22 Jul 2021 22:10 WIB
pavel durov
Pendiri Telegram Ikut Diincar Spyware Pegasus Foto: Instagram @durov
Jakarta -

CEO dan co-founder Telegram Pavel Durov ikut jadi incaran spyware Pegasus. Namanya masuk dalam daftar panjang tokoh ternama yang diduga menjadi target sasaran spyware buatan NSO Group tersebut.

The Guardian melaporkan bahwa nomor telepon milik Durov masuk di dalam bocoran daftar yang berisi 50.000 nomor telepon yang diduga sebagai target pengawasan potensial. Artinya, kemungkinan ada pelanggan NSO Group yang telah memata-matai Durov belakangan ini.

Daftar tersebut diungkap oleh Amnesty International dan kelompok non profit asal Prancis bernama Forbidden Stories. Dalam daftar tersebut ditemukan nomor telepon milik presiden, perdana menteri, raja, jurnalis, pengacara, dan aktivis.

Saat ditanya apakah Durov merupakan salah satu target Pegasus atau aktivitas lainnya terkait spyware, juru bicara NSO tidak menjawab dengan eksplisit.

"Klaim bahwa sebuah nama ada di dalam daftar pasti terkait dengan target Pegasus atau target potensial adalah keliru dan salah," kata juru bicara NSO Group, seperti dikutip dari The Guardian, Kamis (22/7/2021).

Nomor telepon Durov sudah masuk dalam daftar tersebut sejak tahun 2018. Itu adalah nomor telepon Inggris yang terhubung dengan akun Telegram pribadinya selama bertahun-tahun.

Dipilihnya Durov sebagai salah satu target mata-mata mungkin ada kaitannya dengan sepak terjangnya sebagai pendiri Telegram. Seperti diketahui, Telegram menawarkan layanan messaging dengan enkripsi end-to-end yang populer di kalangan kelompok yang ingin menghindari perhatian pemerintah seperti teroris, penjahat dan aktivis yang memerangi rezim otoriter.

Daftar pemerintahan dan badan intelijen yang berpotensi mengincar Durov juga cukup panjang. Durov meninggalkan tanah kelahirannya Rusia pada tahun 2013 dan telah beberapa kali berselisih dengan intelijen Rusia. Telegram juga memiliki peran besar dalam protes di Belarusia, Hong Kong dan Iran.

Tapi, analisis dari bocoran daftar tersebut mengindikasikan bahwa Durov kemungkinan diincar oleh Uni Emirat Arab yang pernah menjadi klien NSO Group. Pada tahun 2018, Durov memang mengganti alamat resminya dan pindah dari Finlandia ke UEA.

Mengingat nomor teleponnya masuk ke dalam daftar tersebut pada tahun 2018, timing-nya tepat dengan kepindahan Durov dan mungkin intelijen UEA ingin mengecek latar belakang pendatang baru yang kontroversial tersebut.

Menurut pakar keamanan siber yang sudah memeriksa cara kerja Pegasus, spyware ini bisa menyerang aplikasi messaging terenkripsi dan bisa mengakses semua bagian ponsel yang telah terinfeksi.

Mereka mengatakan aplikasi messaging terenkripsi seperti Telegram, WhatsApp dan Signal tidak akan bisa lagi melindungi percakapan di dalamnya kalau ponsel sudah terinfeksi spyware seganas Pegasus.

Pegasus sendiri merupakan spyware yang cukup mengerikan. Spyware ini bisa mencuri berbagai data dari ponsel yang diinfeksinya, seperti pesan, foto, email, catatan telepon, dan juga mengaktifkan mikrofon.



Simak Video "Gaet Jutaan User Baru, CEO Telegram: Migrasi Digital Terbesar"
[Gambas:Video 20detik]
(vmp/fay)