LinkedIn Bantah 700 Juta Data Pengguna Bocor

LinkedIn Bantah 700 Juta Data Pengguna Bocor

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Kamis, 01 Jul 2021 15:09 WIB
Linkedin
Foto: Dok. LinkedIn
Jakarta -

LinkedIn menepis tudingan bahwa jaringannya terkena peretasan yang menyebabkan bocornya 700 juta data pengguna.

Mereka mengaku sudah menginvestigasi tudingan kebocoran data tersebut, dan memastikan tak ada pembobolan terhadap server mereka yang mengakibatkan kebocoran data tersebut.

"Tim kami sudah menginvestigasi tudingan data LinkedIn yang dijual. Kami memastikan kalau ini bukanlah pembobolan dan tak ada data pribadi pengguna LinkedIn yang bocor," tulis LinkedIn dalam postingan di situsnya itu.

Menurut LinkedIn, data tersebut adalah hasil scraping atau dikumpulkan dari situs LinkedIn dan berbagai situs lain. Lalu sebagian data tersebut juga sama dengan kebocoran data LinkedIn yang ditudingkan pada April 2021 lalu, seperti dikutip detikINET dari Economic Times, Kamis (1/7/2021).

"Hasil investigasi awal kami menemukan kalau data ini dikumpulkan dari LinkedIn dan bermacam situs lain dan termasuk dengan data yang dilaporkan pada awal tahun ini dalam laporan scraping April 2021 kami," tambahnya.

Sebelumnya diberitakan, sekitar 700 juta data pengguna LinkedIn bocor di dunia maya, atau lebih dari 92% dari total penggunanya yang mencapai 756%.

Data pengguna LinkedIn itu tersebar dan dijual di dark web, dan berisikan berbagai informasi sensitif termasuk nomor telepon, alamat fisik, data geolokasi, dan lainnya.

Sejauh ini peretasnya sudah menyebar data sampel sebanyak 1 juta, dan dari sampel tersebut bisa dipastikan kalau datanya asli dan terbaru.

Menurut RestorePrivacy, hackernya itu diduga menggunakan application programming interface (API) resmi LinkedIn untuk menyedot data-data tersebut. Metode yang sama sebelumnya juga dipakai dalam peretasan terhadap LinkedIn pada April lalu.

"Pada 22 Juni, ada yang mengiklankan data berisi 700 juta pengguna LinkedIn untuk dijual. Salah satu anggota forum memposting sampel data yang berisi 1 juta pengguna LinkedIn," tulis RestorePrivacy.



Simak Video "Ini Alasan RUU Perlindungan Data Pribadi Tak Kunjung Selesai Dibahas"
[Gambas:Video 20detik]
(asj/fay)