Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Serangan 'Badai Besar' Ancam Internet

Serangan 'Badai Besar' Ancam Internet


- detikInet

Jakarta - Sebuah serangan tipe denial of service (DoS) dengan kemampuan yang lebih dahsyat telah muncul. Ancaman baru bagi infrastruktur internet dunia?Ken Silva, Kepala Keamanan VeriSign, memaparkan adanya serangan DoS yang hebat. Serangan itu pertama kali muncul di penghujung 2005, terus meningkat hingga Januari, dan kira-kira sebulan lalu mereda. dalam waktu kurang lebih dua bulan sebanyak 1.500 alamat Internet Protocol (IP) terkena serangan tersebut. "Serangan itu lebih besar secara siginifikan dari apapun yang pernah kami lihat," ujarnya seperti dikutip detikINET dari Cnwt, Jumat (17/03/2006). Lazimnya, sebuah serangan DoS dilakukan oleh sekelompok komputer (bots) yang diarahkan oleh satu pihak tertentu ke server korbannya. Tujuannya adalah membuat lumpuh server tersebut. Namun dalam serangan baru yang disebut-sebut sebagai 'badai besar'-nya DoS itu, bots mengirimkan 'permintaan' (query) ke server Domain Name System (DNS). Server DNS tersebut kemudian 'ditipu' untuk mengembalikan hasil permintaan ke target para bots. Hasilnya, ujar Silva, 'serangan' dilakukan oleh server DNS. Sehingga, lanjutnya, akan lebih dahsyat dan sulit dihentikan. Jika serangan DoS biasa bisa ditanggulangi dengan memblokir alamat IP para bots, pada serangan ini memblokir IP server DNS adalah hal yang sulit. Silva menyebutkan, perusahaan bisa merekonfigurasi server DNS mereka agar mencegah fitur recursive name service. DNS merupakan infrastruktur yang bekerja di 'tulang punggung' internet dunia. Server DNS memungkinkan permintaan pengguna atas alamat tertentu (misalnya www.detik.com) diterjemahkan ke dalam alamat IP untuk mengacu pada lokasi sesungguhnya dari situs tersebut. Pada tahun 2002 infrastruktur internet dunia sempat mengalami serangan pada sembilan dari 13 server DNS yang ada. Saat ini, beberapa dari 13 server DNS itu telah dibuat duplikatnya (mirror), termasuk di Indonesia. "Serangan ini jauh lebih besar dari yang kami lihat pada 2002. Ini bisa menjadi badai Katrina-nya serangan internet," tutur Silva. (wsh) (wicak/)







Hide Ads