Vaksin Corona Jadi Target Serangan Siber di 2021

Vaksin Corona Jadi Target Serangan Siber di 2021

Aisyah Kamaliah - detikInet
Selasa, 08 Des 2020 15:16 WIB
The doctor prepares the syringe with the cure for vaccination.
Ilustrasi vaksin corona. Foto: iStock
Jakarta -

Serangan cyber untuk vaksin corona diprediksi akan menjadi ancaman nyata pada tahun 2021. Kaspersky mengatakan segala sisi dari bisnis vaksin rentan dengan serangan tersebut.

"Apa ancaman yang ada di 2021? Apa produk baru yang akan di jual sampai jutaan? Betul, itu adalah vaksin corona yang membuat banyak perubahan dalam kehidupan," ucap Vitaly Kamluk, Director of Global Research and Analysis (GReAT) untuk Asia Pasifik di Kaspersky dalam acara 'Kaspersky APAC Cyber Security Weekend', Selasa (8/12/2020).

Cyber attack ini bertujuan untuk merusak reputasi digital dari beragam perusahaan yang tengah mengembangkan vaksin corona dari berbagai negara. Tak hanya dari data pengembangan vaksin, data logistik sampai finansial pun harus diwaspadai dari serangan hacker.

Karenanya pengamanan data perlu diperhatikan sejak awal, terutama bagi mereka yang bergerak di bagian riset vaksin corona. Ketika hal yang tidak diinginkan terjadi atau kecolongan serangan, dianjurkan untuk tidak melakukan kompromi dengan kriminal.

"Jangan bekerjasama dengan penjahat karena pasti di awal akan dilakukan kompromi, namun ini berujung pada jebakan," sarannya.

Berbagai laporan serangan pada proses pengembangan vaksin pun sebenarnya sudah terlihat dari pemberitaan yang ada. Saling tuduh pencurian data riset vaksin antar negara pun sudah mewarnai pada pertengahan tahun 2020.

Ancaman keamanan siber lain di 2020-2021

Selain vaksin corona, secara umum kegiatan bekerja di era yang terdampak COVID-19 adalah perusahaan yang menerapkan sistem work from home (WFH). Di sini, dengan ruang kerja yang rentan keamanan jaringan, perlu diperhatikan langkah khusus untuk mencegah pembobolan atau serangan hacker.

Tak hanya itu, waktu luang yang dimanfaatkan untuk mengalihkan kebosanan juga dilakukan secara online, tak mengherankan jika penggunaan media sosial juga semakin tinggi dan membuka celah bagi penjahat dunia maya.

"Salah satu efek yang paling terlihat dari pandemi ini adalah bagaimana hal itu memaksa semua orang, dari individu hingga perusahaan terbesar, untuk mengalihkan banyak aktivitas mereka secara online. Ketergantungan ini, yang dipicu oleh kebutuhan kita sebagai bentuk menjaga kesehatan fisik, juga mendorong untuk meningkatkan penggunaan media sosial. Sejalan dengan tren ini juga menjadi terbukanya pintu yang lebih luas bagi penjahat dunia maya untuk mengeksploitasi," ujarnya.

Selain ketergantungan yang lebih besar pada internet, situasi pandemi juga menyediakan alat yang efektif bagi penjahat dunia maya membuat satu klik email phishing, membagikan tautan berbahaya, meneruskan gambar yang terinfeksi, dan masih banyak lagi.

Faktanya, pada awal April, banyak perusahaan menerapkan sistem kerja jarak jauh bagi karyawannya dan pelaku kejahatan siber akhirnya mendapatkan cara baru untuk mengeksploitasi situasi:

- Serangan brute force pada server database pada April 2020 meningkat 23%
- File berbahaya yang ditanam di situs web meningkat 8% di bulan April
- Serangan jaringan dan email phishing juga meningkat



Simak Video "Penjelasan Satgas Soal Isu 'Chip' hingga Rahasia Data Vaksin"
[Gambas:Video 20detik]
(ask/fay)