Data dari Ponsel Gisel Sudah Dihapus, Kok Bisa Muncul Lagi?

Data dari Ponsel Gisel Sudah Dihapus, Kok Bisa Muncul Lagi?

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Senin, 07 Des 2020 12:34 WIB
Sama Seperti di Indonesia, Pencurian Data Pribadi Juga Terjadi di Australia
Data dari ponsel Gisel sudah dihapus, kok bisa muncul lagi? Foto: ABC Australia
Jakarta -

Hotman Paris menyebut Gisel pernah menghapus data di ponsel sebelum ponsel tersebut diberikan ke manajernya. Tapi, data tersebut ternyata bisa muncul kembali. Ah, masa sih?

Ketika ditanyakan ke Alfons Tanujaya, pengamat keamanan siber, ternyata hal ini memang bisa terjadi. Menurutnya, data yang sudah dihapus itu memang bisa muncul kembali, atau lebih tepatnya bukan muncul lagi, namun memang sebenarnya data tersebut belum benar-benar terhapus.

"Sebenarnya bukan muncul lagi tetapi ini adalah teknis penghapusan data di perangkat digital," ujar Alfons ketika dihubungi detikINET.

Yang dimaksud oleh Alfons adalah, sebenarnya saat kita menghapus data dengan mengklik 'delete' di ponsel, yang dihapus itu hanya logika keberadaan data. Selama tempat penyimpanan data masih tersisa, maka sebenarnya data yang sudah dihapus itu masih tersimpan di dalam ponsel.

"Maksudnya jika sisa memory card/harddisk masih banyak, maka sebenarnya data yang dihapus secara fisik masih ada di memory card/harddisk tersebut," tambahnya.

Data yang sebenarnya masih tersimpan itu, bisa ditampilkan kembali dengan program recovery. Ngerinya, jika tempat penyimpanan yang tersisa masih banyak, tingkat keberhasilan program seperti ini sangat besar.

"Kalau sisa memory cardnya masih banyak tingkat keberhasilan sangat tinggi. Bisa > 90 %," ujar peneliti keamanan dari Vaksincom ini.

Menurutnya, hal ini juga bisa terjadi pada penyimpanan data di ponsel, karena prinsip penyimpanan data yang dipakai sama saja. Dan melakukan reset factory setting atau erase all data, seperti yang ada di kebanyakan ponsel itu juga tidak aman.

"Harusnya cara kerja penyimpanan sama saja (antara kartu memori dan penyimpanan di ponsel)," pungkasnya.

Namun menurut Alfons, untuk perangkat iOS dan Android keluaran 2015 ke atas, memang sudah tersedia fitur untuk mengenkripsi data yang ada dalam ponsel. Namun itu pun ada syaratnya agar data tersebut tetap tak bisa diakses oleh orang tak bertanggung jawab.

Jadi saat ponsel tersebut diakses secara ilegal, atau tanpa menggunakan PIN/sidik jari pengguna, data yang disimpan itu akan terenkripsi. Namun jika ponselnya diakses secara normal dengan menggunakan PIN dan sejenisnya, data tersebut bisa diakses. Dan kunci dekripsi untuk membuka data tersebut bakal ikut dihapus saat ponsel sudah di-reset.

"Jadi kalau sudah factory reset harusnya sudah aman karena kunci dekripsinya ikut dihapus," ujar Alfons.

Namun, untuk kasus Gisel, menurut Alfons ada dua kemungkinan atau skenario. Yang pertama adalah PIN ponselnya diketahui oleh penerima, atau ponselnya memang keluaran 2014 ke bawah di mana datanya belum dienkripsi.

"Kalau dalam kasus Gisel kemungkinan PIN nya diketahui oleh penerima telepon. Atau ponselnya versi 2014 ke bawah dimana data-datanya belum di enkripsi," tutup Alfons.

Untuk itulah, menurut Alfons, pengguna perlu melakukan langkah tambahan untuk memastikan data-data yang sudah pernah dihapus dari ponsel atau tempat penyimpanan data lainnya tidak bisa dimunculkan kembali.

Seperti apa langkah-langkah mengamankan data yang tersimpan? Tunggu berita selanjutnya, ya, detikers.



Simak Video "Polisi Periksa Saksi Ahli Bahasa dan ITE Terkait Video Mirip Gisel"
[Gambas:Video 20detik]
(asj/fyk)