Berkedok Antivirus McAfee, Hacker China Incar Pemilu AS

Berkedok Antivirus McAfee, Hacker China Incar Pemilu AS

Rachmatunnisa - detikInet
Senin, 19 Okt 2020 06:00 WIB
Serangan cyber
Berkedok Antivirus McAfee, Hacker China Incar Pemilu AS. Foto: Istimewa
Jakarta -

Juni lalu, Google memperingatkan bahwa peretas yang dibekingi sebuah negara mengincar kampanye pemilu AS di 2020. Kini, kabar terbaru mengungkap salah satu modus penyerangan yang dilakukan hacker asal China.

APT31, sebuah kelompok peretas yang terkait dengan China, menyamar sebagai software antivirus McAfee untuk mengelabui tim kampanye Pemilu AS agar menginstal malware. Meskipun software tersebut merupakan salinan asli yang disimpan di GitHub, taktik tersebut akan diam-diam menginstal malware di background.

Jika cara ini berhasil, seperti dikutip dari Engadget, serangan tersebut akan memberi jalan masuk bagi penyusup untuk bisa menjalankan perintah yang mereka inginkan serta mentransfer file.

Peneliti keamanan lebih lanjut mengaitkan China dengan jaringan spam skala besar yang mencoba memengaruhi Pemilu AS melalui video YouTube dengan terjemahan aneh dan suara yang dibuat oleh komputer.

Google mengatakan pihaknya telah melakukan bersih-bersih terhadap jaringan ini, termasuk dengan melakukan penghapusan lebih dari 3.000 saluran. Sejauh ini, belum ada kampanye berpengaruh yang terkoordinasi menargetkan pemilih AS.

Sang raksasa internet juga menyinggung adanya upaya peretasan terhadap para peneliti COVID-19 dan perusahaan farmasi melalui serangan phishing dan malware pada September lalu. Para peretas ini diketahui berasal dari Korea Utara.

Dikatakan Google, serangan brute force juga berperan. Serangan ini memang tidak umum dilakukan kelompok yang didukung sebuah negara. Tapi Google punya contoh serangan cyber terkait penolakan layanan terdistribusi pada 2017 untuk menggambarkan bahayanya.

Saat itu, menurut Google, mereka menerima serangan menggunakan bandwidth 2,5Tbps yang tersebar di beberapa penyedia internet China. Adapun serangan DDoS membutuhkan "tanggapan terkoordinasi" dari internet. Google berjanji untuk melaporkan upaya tersebut jika cukup yakin bahwa serangan tersebut berasal dari bekingan sebuah negara.



Simak Video "Hukuman Denda Rp 362 Miliar dari Turki untuk Google"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/afr)