Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Bumi Kehilangan Air Bersih Setara 4 Kolam Renang Olimpiade Per Detik

Bumi Kehilangan Air Bersih Setara 4 Kolam Renang Olimpiade Per Detik


Rachmatunnisa - detikInet

Ilustrasi air sumur bor yang sumber airnya didapat dari dari mata air di bawah tanah.
Ilustrasi air sumur bor. Foto: Getty Images/iStockphoto/erdre
Jakarta -

Bumi terus kehilangan air tawar dalam jumlah sangat besar dari daratan setiap tahun, yang jumlahnya setara dengan empat kolam renang Olimpiade setiap detik. Jika air ini tidak 'hilang' ke laut, jumlah ini bisa mencukupi kebutuhan air bersih tahunan sekitar 280 juta orang.

Temuan ini terungkap dari laporan terbaru Global Water Monitoring Report yang dirilis oleh World Bank. Laporan ini memberikan gambaran paling rinci tentang penurunan air tawar di daratan global dan bagaimana hal itu berdampak pada pemukiman, pertanian, dan keamanan pangan.

Bumi Kekeringan, Air Mengalir ke Laut

Fenomena yang disebut continental drying adalah proses ketika air tawar yang tersimpan di daratan, termasuk sungai, danau, tanah basah, es dan salju di pegunungan, serta air tanah berkurang secara signifikan setiap tahun. Penyebabnya meliputi pencairan salju dan es yang semakin cepat, pencairan permafrost, penguapan yang meningkat, dan eksploitasi air tanah yang berlebihan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Laporan itu mencatat bahwa sekitar 324 miliar meter kubik air tawar hilang dari daratan tiap tahunnya. Semuanya akhirnya bermuara ke lautan, berkontribusi terhadap kenaikan permukaan laut global.

Setiap detik kita kehilangan air setara empat kolam renang ukuran Olimpiade," ujar Fan Zhang, Global Lead for Water, Economy and Climate Change di World Bank dikutip dari Live Science, Minggu (4/1/2026).

ADVERTISEMENT

Dampak Global

Fan Zhang menekankan bahwa masalah air tawar bukan hanya skala lokal, tetapi sudah menjadi tantangan lintas batas negara. "Kita selalu berpikir masalah air adalah masalah lokal. Masalah air lokal bisa cepat merembet melewati batas negara dan menjadi tantangan internasional," kata Zhang.

Zhang menyampaikan bahwa pemahaman tentang kehilangan air tawar secara global membantu para pembuat kebijakan dan perencana pembangunan untuk menargetkan solusi yang lebih efektif.

Kehilangan air tawar berdampak langsung pada pertanian, karena irigasi semakin terganggu saat air tanah menipis. Keamanan pangan juga terancam karena produksi pangan bergantung besar pada air bersih. Selain itu, pekerjaan lokal juga terganggu, terutama di daerah pertanian yang mengandalkan aliran air stabil.

Tanpa tindakan cepat, wilayah yang saat ini masih cukup air bisa berubah menjadi zona risiko kekeringan dan kelangkaan air, seperti yang sudah terjadi di beberapa kawasan Asia, Afrika, dan Amerika Latin.

Laporan ini tidak hanya menguraikan masalah, tetapi juga membeberkan solusi yang bisa dilakukan untuk menangani tren kehilangan air tawar, antara lain dengan mengelola permintaan air secara lebih efisien dengan teknologi dan regulasi yang tepat, memperluas sumber air alternatif seperti daur ulang air limbah dan desalinasi laut, lalu terakhir mengalokasikan air secara adil dan efisien di seluruh sektor dan wilayah.

Selain itu, perubahan dalam praktik pertanian, seperti penggunaan sistem irigasi yang hemat air, juga dianggap kunci untuk mengurangi tekanan pada sumber air tawar. Untuk diketahui, air tawar hanya sekitar 3% dari total air di Bumi, dan sebagian besar dari itu terjebak dalam bentuk es atau jauh di bawah tanah. Apa yang tersisa untuk kebutuhan manusia sangat terbatas, dan tekanan populasi serta perubahan iklim memperburuk situasi ini.

Jika tidak ditangani, kelangkaan air tawar bisa mengancam akses minum bersih, pangan, sanitasi, dan stabilitas ekonomi secara global bukan hanya di negara yang sudah kering sekarang.




(rns/hps)
TAGS







Hide Ads