Perubahan iklim ternyata telah mengguncang peradaban manusia sejak ribuan tahun lalu. Penelitian terbaru mengungkap serangkaian bencana iklim ekstrem sekitar 3.000 tahun silam diduga menjadi pemicu kekacauan sosial hingga melemahkan Dinasti Shang, salah satu kerajaan tertua di China.
Temuan yang dipublikasikan di jurnal Nature Communications ini diperoleh setelah para arkeolog dan ilmuwan menganalisis ribuan tulang ramalan (oracle bones), artefak kuno yang digunakan untuk meramal dan mencatat berbagai peristiwa penting, mulai dari panen, peperangan, hingga kondisi cuaca.
Tulang ramalan dibuat dari tempurung kura-kura atau tulang belikat sapi yang dipanaskan hingga retak. Retakan tersebut kemudian ditafsirkan oleh para peramal kerajaan, sementara pertanyaan dan hasil ramalan diukir pada permukaannya. Menurut tim peneliti, catatan-catatan tersebut kini menjadi arsip iklim yang sangat berharga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tulisan pada tulang ramalan memberikan catatan langsung mengenai bagaimana masyarakat merasakan dan merespons perubahan lingkungan," kata para peneliti dalam studi tersebut, seperti dikutip dari Live Science, Kamis (23/7/2026).
Dari ribuan prasasti itu, para ilmuwan menemukan peningkatan laporan mengenai kekeringan, banjir, gagal panen, hingga cuaca ekstrem yang terjadi pada masa-masa akhir Dinasti Shang, sekitar abad ke-11 sebelum Masehi.
Analisis menunjukkan masyarakat saat itu tidak hanya menghadapi satu jenis bencana. Dalam beberapa dekade terakhir pemerintahan Shang, wilayah China utara berulang kali mengalami kekeringan panjang yang kemudian disusul hujan deras dan banjir. Pola cuaca yang tidak menentu itu membuat produksi pangan terganggu dan mempersulit kehidupan masyarakat.
"Data menunjukkan meningkatnya frekuensi kejadian iklim ekstrem yang kemungkinan besar memengaruhi produksi pertanian dan stabilitas masyarakat," tulis tim peneliti.
Para peneliti mengatakan perubahan tersebut sejalan dengan bukti paleoklimatologi dari sedimen dan inti gua yang menunjukkan terjadinya perubahan besar pada sistem monsun Asia Timur saat itu.
Meski demikian, para ilmuwan menegaskan perubahan iklim bukan satu-satunya faktor yang menyebabkan runtuhnya Dinasti Shang. Kerajaan itu akhirnya ditaklukkan oleh Dinasti Zhou sekitar tahun 1046 SM. Selain tekanan lingkungan, konflik politik, peperangan, serta persoalan ekonomi juga diyakini berperan dalam melemahkan kekuasaan Shang.
"Perubahan iklim kemungkinan memperburuk tekanan sosial yang sudah ada, bukan menjadi satu-satunya penyebab keruntuhan dinasti," jelas para peneliti.
Menurut tim peneliti, studi ini menunjukkan bagaimana perubahan iklim dapat memengaruhi masyarakat secara luas, terutama ketika kondisi lingkungan berubah dalam waktu singkat. Dengan menggabungkan bukti arkeologi, catatan sejarah, dan data iklim purba, para ilmuwan berharap masyarakat modern dapat lebih memahami bagaimana peradaban masa lalu beradaptasi menghadapi cuaca ekstrem.
"Catatan sejarah semacam ini dapat membantu kita memahami hubungan jangka panjang antara perubahan iklim dan ketahanan masyarakat," kata para peneliti.
Temuan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa dampak perubahan iklim terhadap kehidupan manusia bukanlah fenomena baru. Bahkan tiga milenium lalu, perubahan pola hujan dan cuaca sudah mampu mengguncang salah satu peradaban terbesar di dunia.