Hampir 900 ular, termasuk kobra berbisa, lepas setelah sebuah fasilitas penangkaran di China selatan diterjang banjir yang dipicu oleh Topan Maysak. Bahkan dilaporkan, salah satu reptil yang lepas tersebut menggigit seorang warga desa setempat, yang kini sedang menerima perawatan darurat.
Ular-ular melarikan diri ketika penangkaran di Hengzhou terendam banjir Senin pagi waktu setempat. Curah hujan lebat menyebabkan dinding dua waduk, yakni Liulan dan Yunbiao, jebol sehingga merendam komunitas dataran rendah dan menyapu beberapa peternakan ular skala kecil di daerah tersebut.
Dikutip detikINET dari Independent, video viral memperlihatkan warga desa berdiri di tengah banjir setinggi pinggang sambil memegang tongkat bambu, berusaha menangkap reptil-reptil tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pejabat desa Wu Zhi mengatakan sebagian besar ular itu tidak berbisa dan tim beranggotakan 10 orang telah dikerahkan untuk menangkap mereka menggunakan jaring dan alat kejut listrik.
Ia memperingatkan warga agar tidak mencoba menangkap ular dengan tangan kosong jika menemukannya. Pihak berwenang menerjunkan tim darurat untuk menangkap reptil yang lepas serta mengimbau warga menghindari area banjir selama operasi berlangsung.
Banjir pada minggu ini menewaskan puluhan orang di berbagai provinsi di wilayah selatan dan tengah China, serta memaksa ratusan ribu warga mengungsi dari rumah mereka.
Guangxi mengeluarkan peringatan banjir tingkat tertinggi Senin tengah malam saat ketinggian air 55 sungai melampaui batas. Selasa sore, 62 sungai di penjuru negeri melampaui level peringatan banjir, dengan Sungai Qingshui di Guangxi mencatat rekor banjir terparah sepanjang sejarah pemantauan. Di provinsi tetangganya, Guangdong, peringatan merah banjir pertama musim ini dikeluarkan untuk beberapa wilayah.
Maysak, topan pertama di China tahun ini, menjadi pemicu utama kerusakan di wilayah selatan, menewaskan sejumlah orang di Guangxi dan memaksa 130.000 orang mengungsi.
Sebuah bendungan waduk jebol di ibu kota regional Nanning. Rekaman video memperlihatkan derasnya aliran air berlumpur menerjang dinding beton yang hancur. Secara terpisah, badai petir dan angin kencang menewaskan 11 orang dan melukai lebih dari 330 lainnya di Hubei tengah.
Presiden China Xi Jinping memerintahkan upaya penyelamatan dan pemberian bantuan dilakukan secara habis-habisan, begitu juga dengan perawatan medis bagi para korban luka, serta permukiman kembali bagi warga yang mengungsi.
Musim banjir di China resmi dimulai 1 Juli. Ahli meteorologi memperingatkan negara tersebut menghadapi tantangan pencegahan bencana yang kompleks tahun ini akibat pemanasan global dan El Nino, fenomena iklim yang memanaskan Samudra Pasifik dan mengacaukan pola cuaca dunia.