Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Bos Microsoft Bicara Soal AI Slop: Dibela Habis-habisan

Bos Microsoft Bicara Soal AI Slop: Dibela Habis-habisan


Anggoro Suryo - detikInet

REDMOND, WASHINGTON - APRIL 4: Microsoft CEO Satya Nadella speaks during an event celebrating the 50th Anniversary of Microsoft on April 4, 2025 in Redmond, Washington. The company also gave an update on Copilot, its AI tool.  (Photo by Stephen Brashear/Getty Images)
Foto: Getty Images/Stephen Brashear
Jakarta -

CEO Microsoft Satya Nadella ingin mengakhiri perdebatan soal AI slop versus kecanggihan model kecerdasan buatan. Alih-alih terus terpaku pada kualitas konten yang dihasilkan AI, Nadella mendorong arah baru: menjadikan agen AI sebagai alat utama manusia berinteraksi dengan teknologi.

Gagasan itu ia sampaikan lewat blog pribadinya yang baru, sn scratchpad. Dengan menunjuk CEO baru untuk mengelola bisnis terbesar Microsoft, Nadella kini punya lebih banyak waktu untuk memikirkan arah strategis perusahaan dan industri AI secara luas.

Dalam tulisan pertamanya, Nadella menyinggung perlunya konsep baru yang melampaui analogi lama komputer sebagai "bicycle for the mind", istilah yang pernah dipopulerkan Steve Jobs pada era 1990-an. Menurut Nadella, manusia kini hidup berdampingan dengan alat penguat kognitif baru berupa AI.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita perlu bergerak melewati perdebatan antara slop dan sophistication, dan membangun keseimbangan baru dalam cara kita memahami pikiran manusia yang kini dibekali alat kognitif baru," tulis Nadella, dalam postingannya, seperti dikutip detikINET dari The Verge, Minggu (4/1/2026).

Pernyataan ini sejalan dengan strategi Microsoft yang mulai menggeser ketergantungan pengguna dari software tradisional seperti Windows dan Office ke agen AI. Perusahaan bertaruh bahwa masa depan produktivitas tidak lagi bertumpu pada aplikasi, melainkan pada AI yang bisa bertindak sebagai asisten serba bisa.

ADVERTISEMENT

Namun transisi ini memunculkan ketegangan. Banyak kreator khawatir tersingkir oleh AI yang mampu meniru gaya seniman, desainer, hingga pembuat film. Jika selama ini PC menjadi alat untuk berkarya, kini Microsoft dan perusahaan teknologi lain mendorong AI sebagai "alat pencipta" itu sendiri, meski hasilnya sering kali masih dianggap sebagai sampah digital.

Microsoft membayangkan Copilot digunakan lewat suara untuk membuat konten, mencari informasi, dan membantu berbagai tugas sehari-hari. Masalahnya, visi tersebut belum sepenuhnya terwujud. Banyak fitur Copilot yang dijanjikan belum bekerja konsisten di dunia nyata.

Meski begitu, Nadella tetap optimistis. Ia menilai kekuatan AI ke depan bukan ditentukan oleh model mana yang paling canggih, melainkan bagaimana teknologi itu diterapkan sebagai sistem yang berdampak nyata.

"Kita akan berevolusi dari model ke sistem dalam penerapan AI," ujarnya. Sistem tersebut, menurut Nadella, harus mempertimbangkan dampak sosial, lingkungan, serta penggunaan energi dan sumber daya komputasi.

Nadella menyebut 2026 sebagai tahun krusial bagi AI. Ia berjanji akan terus membagikan catatan pribadinya soal perkembangan teknologi dan dampaknya di dunia nyata.




(asj/hps)





Hide Ads
LIVE