Transaksi Lewat Visa Terancam Dibobol
- detikInet
Jakarta -
Bobol-membobol tak hanya getol dilakukan oleh para black hacker saja. Para pedagang pun juga bisa membobol keamanan data. Di Amerika Serikat, para pedagang malah telah berpengalaman dalam hal membobol keamanan data. Bahkan mereka bisa menyusupi informasi kartu kredit sang korban. Hal ini diakui Visa, salah satu kartu kredit yang paling populer di dunia. Menurut penyelidikan yang dilakukan News.com, banyak pedagang yang sering menipu atau menonaktifkan kartu debet Visa milik pelanggannya. Hal ini karena keamanan data kartu tersebut mudah disusupi. Korbannya? Cukup banyak. Salah satunya seorang lelaki asal San Francisco yang mengaku kartunya telah dinonaktifkan.Menurut Visa, setelah mereka mengetahui adanya penyusupan kartu kredit ini, Visa segera memperingatkan lembaga-lembaga keuangan untuk melindungi pelanggannya. Caranya dengan mengawasi penipuan independen, dan jika perlu, menerbitkan ulang kartu kredit tersebut.Seperti dilansir detikinet dari CnetNews.com Selasa (27/12/2005), sampai saat ini Visa belum memiliki informasi lain terkait siapa nama pedagang yang terlibat, jumlah rekening yang dilibatkan atau kapan peristiwa ini terjadi.Sekedar informasi, tahun 2005 ini, aktivitas pencurian data dan identitas memang menghebohkan banyak pihak. Terlebih saat dibobolnya keamanan data proses pembayaran milik perusahaan CardSystems Solutions. Hal ini mengakibatkan lebih dari 40 juta rekening kartu kredit terancam dibongkar, terutama kartu Visa dan MasterCard.Kasus yang sama juga melibatkan lembaga keuangan Bank of America dan Wachovia, data pialang ChoicePoint dan LexisNexis, Universitas California di Berkeley dan Stanford University.Visa lagi-lagi menghimbau agar setiap pihak yang menangani informasi kartu pembayaran selalu memakai standar perlindungan data guna melindungi keamanan dan informasi rahasia pelanggan mereka.
(ien/)