Selasa, 08 Okt 2019 13:05 WIB

Ini Bahayanya Jika Pesan WhatsApp Disadap Aparat

Fino Yurio Kristo - detikInet
WhatsApp. Foto: Getty Images WhatsApp. Foto: Getty Images
London - Otoritas Amerika Serikat, Inggris, dan Australia berharap Facebook menyediakan akses backdoor pada layanan pesannya seperti WhatsApp demi memudahkan investigasi kasus kejahatan. Tapi disediakannya pintu belakang itu dapat menimbulkan konsekuensi negatif.

"Sebuah backdoor seperti meninggalkan kunci di balik keset. Sekali seseorang tahu soal itu, siapapun dapat berjalan masuk," kata Profesor Alan Woodward, pakar sekuriti di University of Surrey yang dikutip detikINET dari BBC.

Artinya, hacker lebih mudah masuk ke sistem yang memiliki akses backdoor. Belum lagi jika aparat menyalahgunakan wewenang mengakses pesan.


Pernyataan senada dikemukakan oleh Amnesty International. "Proposal backdoor berulangkali menunjukkan itu tidak bekerja. Tak ada jalan tengah, seandainya penegak hukum dimungkinkan mengakali enkripsi, maka tiap orang bisa," ujar mereka.

Pemerintah bisa saja meminta Facebook mengubah arsitektur layanan pesan sehingga sandinya dapat dipecahkan saat diperlukan. Namun demikian, hal itu berpotensi mewujudkan pengintaian massal.

"Itu tepatnya yang terjadi sebelum Edward Snowden mengungkapnya dan reaksi dari penyedia layanan adalah menyediakan penyandian menyeluruh sehingga mereka tidak bisa mengungkap kuncinya atau memecah sandi pesan," kata Woodward.

Artinya, desain WhatsApp harus banyak diubah untuk memenuhi keinginan aparat. Tak heran jika Facebook menegaskan takkan menuruti permintaan tersebut dengan alasan melindungi privasi dan mungkin juga, takut ditinggalkan para usernya.



Simak Video "Privasi WhatsApp Diacak-acak, Facebook Jadi Ancaman"
[Gambas:Video 20detik]
(fyk/afr)