Jumat, 17 Mei 2019 09:34 WIB

Pendiri Telegram: WhatsApp Tidak akan Pernah Aman

Fino Yurio Kristo - detikInet
Pendiri Telegram, Pavel Durov. Foto: Instagram/durov Pendiri Telegram, Pavel Durov. Foto: Instagram/durov
FOKUS BERITA Spyware WhatsApp Call
Jakarta - Celah keamanan WhatsApp berhasil dimanfaatkan hacker untuk meluncurkan spyware atau software mata-mata, yang berpotensi mengeruk data tanpa disadari pengguna. Pendiri aplikasi messaging pesaing Telegram, yakni Pavel Durov, gatal ikut berkomentar.

Dalam kolomnya, Durov menulis judul 'Kenapa WhatsApp Tidak akan Pernah Aman'. Sosok genius asal Rusia ini mengemukakan bahwa dia tidak terkejut WhatsApp bisa kena serangan.

"Berita ini tidak mengejutkanku. Tahun lalu, WhatsApp harus mengakui mereka memiliki isu yang sangat mirip, video call tunggal adalah yang dibutuhkan hacker untuk mendapatkan akses dari data seluruh ponsel," sebut Durov.



"WhatsApp punya sebuah sejarah yang konsisten, dari tidak adanya penyandian pada saat ia diciptakan sampai masalah keamanan terus menerus yang anehnya cocok untuk tujuan mata-mata," tulis Durov yang dikutip detikINET dari Independent.

"Melihat ke belakang, tidak ada satu haripun WhatsApp dalam perjalanan 10 tahun usianya di mana layanan ini aman," klaim dia.

WhatsApp bukan aplikasi open source sehingga peneliti keamanan tidak bisa secara mudah meneliti celah keamanannya. Hal ini bisa memungkinkan pemerintah ataupun hacker membuat backdoor di aplikasi yang bisa menerobos segala perlindungan yang dibenamkan.

"Setiap kali WhatsApp harus memperbaiki celah keamanan kritis di aplikasinya, yang baru sepertinya muncul lagi. Seluruh masalah keamanan mereka cocok untuk aksi mata-mata, terlihat dan bekerja seperti backdoor," papar Durov.

Pada tahun 2016, WhatsApp membekali penyandian atau enskripsi end to end sehingga pesan tidak bisa dibaca selain oleh pengirim dan penerima pesan. Tapi para pakar keamanan menyatakan bergantung pada teknologi itu tidak cukup untuk melindungi privasi dan keamanan user.



"Hack terbaru ini menunjukkan enkripsi bukanlah perlindungan hebat seperti yang dipikirkan orang. Serangan ini memang tidak menerobos enskripsi karena menyerang ponsel secara langsung sehingga hacker bisa mengaskes data sebelum dan sesudah dienskripsi," sebut Richard Dennis, pendiri firma Blockchain Temtum.

Kembali pada Durov. Ia meyakini WhatsApp tidak akan aman kecuali secara fundamental mengubah cara kerjanya. "Bagi WhatsApp untuk menjadi layanan yang berorientasi privasi, mereka berisiko kehilangan seluruh pasar dan bentrok dengan otoritas di negaranya sendiri. Mereka sepertinya tak siap untuk itu," tulis Durov.



Tonton juga video Badan Siber RI Minta Pengguna Update WhatsApp:

[Gambas:Video 20detik]

(fyk/fyk)
FOKUS BERITA Spyware WhatsApp Call

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed