Selasa, 02 Apr 2019 12:20 WIB

Heboh Akun Twitter Dibobol, Password Jangan Seadanya!

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Aplikasi Twitter. Foto: GettyImages Aplikasi Twitter. Foto: GettyImages
Jakarta - Akun Twitter Ketua Divisi Hukum dan Advokasi Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean, @Ferdinand_Haean, diretas. Hal semacam ini memang sering terjadi sehingga pertahanan pengguna harus kuat, terutama soal password.

Charles Henderson, Global Managing Partner IBM X-Force Red, mengatakan bahwa penerapan password sebagai pelindung sebuah akun sejatinya merupakan ide yang buruk. Meski begitu, nyatanya sistem kata sandi tersebut masih digunakan hingga sekarang.

"Sampai saat ini, tidak ada solusi (keamanan) yang sempurna, dan password mudah untuk diterapkan," ujarnya, sebagaimana detikINET kutip dari CNCB.



Walau ia menyebutnya sebagai ide yang buruk, bukan berarti tidak ada cara untuk memaksimalkan fungsi dari password sebagai sistem keamanan sebuah akun. Salah satu aspek yang harus diperhatikan adalah jumlah karakter yang digunakan.

"Semakin panjang sebuah password, maka makin sulit untuk diretas. Meski tidak ada password yang benar-benar tidak bisa diretas, penggunaan karakter yang banyak akan meminimalisir potensi terjadinya keamanan siber. Hal tersebut dikarenakan para hacker membutuhkan waktu yang lebih lama untuk meretas password dengan karakter yang banyak," tuturnya menjelaskan.

Lalu, Henderson melanjutkan, penggunaan password manager juga bisa diterapkan jika panjang password menjadi masalah bagi user. Software yang membuat password secara acak untuk berbagai situs dan platform, kemudian menyimpannya, memungkinkan pengguna cukup mengingat satu kata sandi untuk masuk ke perangkat lunak tersebut.

"Jika bicara mengenai password, penambahan lapisan keamanan bisa dibilang sebagai pilihan terbaik. Banyak situs dan platform, terutama dari perbankan, memberikan kode khusus lewat ponsel untuk masuk atau lewat pemindai sidik jari dan wajah," katanya.

Menurut Henderson, penambahan lapisan keamanan tersebut akan menyulitkan hacker untuk meretas akun atau rekening milik user. Meskipun mereka sudah mengetahui password milik user, para pelaku kejahatan siber masih akan disulitkan dengan kode khusus atau informasi biometrik tersebut.

Kemudian, Caleb Barlow, Vice President, IBMSecurity, menyarankan kepada user agar tidak menerapkan password yang sama terhadap rekening bank, email, dan media sosial. Selain itu, menurutnya, berbohong juga dapat membantu dalam menjaga keamanan password.



"Jika kamu lupa password milikmu, mungkin kamu akan diminta untuk menjawab sejumlah pertanyaan pribadi untuk mengatur ulang kata sandi tersebut. Dalam menyiapkan jawabannya, kalian cukup berbohong saja. Jika data pribadi tersebut sudah kamu bagikan sebelumnya di media sosial, bukan hal sulit bagi hacker untuk mengetahuinya," papar Barlow.

"Tidak ada alasan untuk memberikan jawaban yang jujur terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut. Gunakan jawaban yang mudah diingat, namun sulit diterka dari akun media sosial milikmu," pungkasnya. (mon/fyk)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed