Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Sesepuh '<I>Hacker</I>' Indonesia:
'Hentikan Aksi e-Ganyang!'
Sesepuh '<I>Hacker</I>' Indonesia:

'Hentikan Aksi e-Ganyang!'


- detikInet

Jakarta - Maraknya aksi saling 'ganyang' situs web Malaysia dan Indonesia membuat galau 'sesepuh' internet di Indonesia. Seruan damai akhirnya muncul untuk menenangkan.Hal itu misalnya dikemukakan oleh Onno W. Purbo, praktisi internet yang hanya ingin disebut sebagai 'orang biasa'. "Terus terangnya, saya sudah tua kali ya? Mikirnya agak beda barangkali. Rasanya akan lebih membuat Indonesia ceria, kalau anda-anda (pelaku aksi deface -red.) memerangi korupsi, KKN dan pungli," ujar Onno kepada detikcom, Senin (14/03/2005). Menurut Onno, rasa nasionalisme dan patriotisme yang menggebu-gebu dari para 'hacker' itu seharusnya bisa disalurkan dengan cara yang lebih positif. "Kalau mau mempraktekan ilmu mendeface, ya coba aja web instansi dan aparat yang paling banyak korupsi dan gemar KKN, daripada mencari musuh sesama Muslim," ujar 'hacker' ini setengah berkelakar.Meski demikian, Onno mengaku prihatin dengan kericuhan yang terjadi di Malaysia. Pria yang beberapa bulan lalu menunaikan ibadah haji ini mengatakan sengketa sebenarnya tidak harus terjadi. "Kenapa sih mikirnya tidak dibalik sedikit, apakah selama ini pemerintah memperhatikan kesejahteraan rakyat kecil yang hidup di pulau terpencil di Indonesia?" ujar mantan dosen Institut Teknologi Bandung tersebut.Damai Itu IndahHal senada dikemukakan juga oleh Budi Rahardjo, praktisi keamanan internet dari ID-CERT (Indonesia Cyber Emergency Response Team). "Saya mengerti bahwa akhir-akhir ini beberapa masalah di dunia nyata membuat kita kesal dan marah. Namun kekesalan tersebut sebaiknya tidak dilimpahkan ke dunia maya (cyberspace)," ujarnya dalam sebuah seruan publik kepada hacker Indonesia dan Malaysia. Menurut Budi, masih banyak hal positif yang bisa dilakukan sebelum saling mengganyang. "Kita bisa melakukan langkah-langkah positif seperti melakukan dialog, melalui e-mail, mailing list, bulletin board, blog, dan media elektronik lainnya," Budi mencontohkan.Alumni ITB ini berharap masyarakat di dunia cyber bisa memberikan teladan cara penyelesaian masalah yang berkepala dingin. Harapannya, hal itu akan dicontoh oleh masyarakat di dunia 'nyata'. "Sekali lagi, mohon penyerangan dihentikan sebelum kita masuk ke tindakan atau aktivitas yang membuat kita menyesal di kemudian hari. Damai itu indah!" seru Budi. Seruan damai tersebut sudah beredar di Internet sejak Senin dini hari. Namun, hingga Senin pagi detikcom masih menerima informasi tak kurang dari 13 situs Malaysia yang tampilannya 'dipermak' oleh 'dedemit maya'. (ien/)







Hide Ads