Jumat, 30 Jun 2017 08:58 WIB

Korban Petya Mayoritas Pakai Windows 7

Muhammad Alif Goenawan - detikInet
Sebuah ATM di Ukraina terserang Rensomware Petya. Foto: Reuters Sebuah ATM di Ukraina terserang Rensomware Petya. Foto: Reuters
Jakarta - Cukup banyak negara yang terkena serangan Ransomware baru bernama Petya. Mayoritas korbannya menggunakan sistem operasi Windows 7.

Hal tersebut diungkap oleh pengamat keamanan cyber dari Avast. Mereka mendapati Petya banyak ditemukan di perangkat komputer berbasis sistem operaso Windows. Dari sekian banyak versi Windows yang ada, Windows 7 lah yang paling banyak mendapat serangan Petya.

Dari data statistik Avast, Windows 7 menempati urutan pertama yang terserang Petya dengan persentase mencapai 78%. Menyusul Windows XP dengan persentase 14%, lalu Windows 10 di angka 6%, dan Windows 8.1 dengan jumlah persentase 2%.

Meski disebut sebagai serangan baru, Avast sudah mengidentifikasi Ransomware Petya sempat menyerang sejumlah perusahaan di Ukraina pada tahun 2016 lalu.

"Beberapa bulan yang lalu, kami melihat ransomware Petya yang di-patch dan di-bundling dalam strain malware yang berbeda yang disebut PetrWrap. Serangan tersebut tampaknya telah menyebar dan insidennya telah dilaporkan di Rusia, India, Perancis, Spanyol dan juga Belanda," ujar Jakub Kroustek, Threat Lab Team Lead Avast, dalam keterangannya, Jumat (30/6/2017).

Sama seperti serangan ransomware pada umumnya, kala itu penjahat cyber juga meminta tebusan sebesar USD 300 dalam bentuk mata uang Bitcoin.

"Modifikasi Petya ini tampaknya menyebar dengan menggunakan kerentanan EternalBlue dan merupakan kerentanan yang sama yang digunakan untuk menyebarkan WannaCry. Kami telah meihat 12.000 upaya dilakukan oleh malware untuk mengeksploitasi EternalBlue, yang telah kami deteksi dan blokir," imbuhnya.

Data dari Avast's Wi-Fi Inspector menunjukkan bahwa 38 juta PC yang dipindai minggu lalu belum menambal atau mem-patch sistem mereka dan menjadi rentan. Hal ini menunjukan bahwa jumlah PC yang rentan terkena serangan mungkin jauh lebih tinggi.

"Kami sangat merekomendasikan pengguna Windows, terlepas apakah konsumen atau pengguna bisnis, untuk memperbarui sistem mereka dengan patch yang tersedia sesegera mungkin, dan memastikan perangkat lunak antivirus mereka juga terbaru," pungkasnya.

Seperti diketahui serangan ransomware bernama Petya cukup membuat gemparkan seluruh dunia. Beberapa pakar menilai jika serangan Petya bisa lebih ganas dari WannaCry yang juga sempat bikin heboh bulan Mei 2017 lalu.

Sejak serangan dilancarkan pada tanggal 28 Juni 2017 lalu, ransomware ini sudah banyak memakan korban, di antaranya perusahaan minyak di Rusia, bank-bank di Ukraina, pabrik cokelat di Australia, hingga perusahaan pengelola peti kemas di India.

Petya mengakibatkan jaringan sistem komputer yang terserang menjadi lumpuh. Agar bisa mengaktifkannya kembali perusahaan harus membayar tebusan sebesar USD 300 atau setara Rp 4 juta. (mag/afr)
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed