Hal ini mereka lakukan untuk berjaga-jaga menghadapi kemungkinan adanya serangan cyber dari Rusia, termasuk serbuan berita bohong seperti yang terjadi di Pemilihan Presiden (Pilpres) Amerika Serikat tidak terulang kembali.
Langkah Jerman dan Prancis ini diambil setelah intelijen AS merilis infomasi yang menyebut presiden Rusia Vladimir Putin adalah orang yang memerintahkan 'kampanye' untuk memenangkan Donald Trump di Pilpres AS, yang kemudian berhasil membuat Trump mengalahkan Barack Obama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rusia sendiri tentu membantah kemungkinan ikut campurnya mereka dalam pemilu di negara-negara Eropa, yang dianggap oleh pengamat juga tak terlalu menguntungan bagi Rusia jika ikut campur.
Sementara kanselir Jerman Angela Merkel menyebut pihaknya tak bisa menampik kemungkinan ikut campurnya Rusia dalam pemilu tahun ini. Hal senada diungkapkan oleh menteri pertahanan Prancis Jean-Yves le Drian.
"Kami tak bisa mengecualikan operasi yang bersifat sama seperti yang terjadi di Amerika Serikat, terjadi di Prancis," ujar le Drian dalam sebuah wawancara, demikian dikutip detikINET dari Venture Beat, Senin (15/1/2017).
(asj/yud)