Populasi ‘rakyat' Facebook yang sudah lebih dari 1 miliar tentunya jadi target empuk bagi penjahat cyber. Termasuk bagi penyebar scam porno di situs besutan Mark Zuckerberg itu.
"Pada dasarnya pembuat scam pasti akan berusaha untuk selalu mendapatkan keuntungan finansial dari internet. Apalagi basis pengguna Facebook yang jumlahnya mencapai miliaran dan secara de facto merupakan jumlah pengguna sosial terbanyak di dunia tentu menjadi target yang menggiurkan bagi kriminal,” jelas Alfons Tanujaya, praktisi keamanan internet Vaksincom.
Alfons memaparkan, modus yang dilakukan scam Facebook biasanya adalah mengirimkan pesan kepada sebanyak mungkin pengguna Facebook. Pada awalnya aksi ini dilakukan dengan cara membuat Facebook app jahat digunakan untuk melakukan auto posting, namun aktivitas ini hanya berjalan beberapa saat dan setelah modusnya teridentifikasi oleh administrator, Facebook app jahat ini dibasmi dan aktivitas posting dari apps Facebook jahat berhasil ditekan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah era Add ons berakhir dimana pengguna komputer sudah menyadari sumber masalah autoposting ada di Add ons peramban, maka kriminal kembali mencari cara melakukan auto posting lagi di Facebook. Pada akhir tahun 2015 teknik yang digunakan adalah mengeksploitasi celah keamanan apps Facebook seperti Blackberry Smartphone dan HTC.
Aksi ini ditambah lagi dengan trik pencurian kredensial Facebook melalui situs phishing dengan iming-iming gambar atau video porno seperti yang terjadi di akhir tahun 2015.
"Dibandingkan dengan tahun 2014 dan sebelumnya, aksi auto posting ilegal dan phishing di Facebook mengalami peningkatan cukup tajam. Hal ini dimotivasi oleh tujuan mendapatkan keuntungan finansial dari pendapatan iklan yang akan masuk ke kantong pembuat auto posting setiap kali pengguna Facebook mengklik tautan atau iklan yang ditampilkan oleh posting ilegal ini,” lanjut Alfons saat berbincang dengan detikINET, Selasa (5/1/2015).
Jadi pada umumnya modus utama yang berhasil menjaring korban cukup tinggi masih modus klasik, menjanjikan gambar atau video porno bagi siapapun yang mengklik tautan yang diberikan pada posting di wall Facebook.
Sementara target utamanya adalah UUD alias ujung-ujungnya duit. Ada beberapa scammer yang langsung menampilkan iklan dan berharap mendapatkan uang dari pay per klik dari iklan yang ditampilkan dan biasanya iklan yang ditampilkan kebanyakan iklan situs porno yang berani membayar mahal scammer.
"Selain itu, modus tidak langsung adalah phishing mencuri kredensial akun Facebook dan menggunakan akun tersebut untuk melakukan penyebaran pesan scam dengan dua tujuan, tujuan pertama mencuri akun Facebook lagi (dan kembali terulang seperti di atas) dan tujuan kedua menampilkan iklan untuk mendapatkan keuntungan finansial,” Alfons menjabarkan.
(ash/fyk)