Umat Islam hari ini merayakan Isra Miraj sebagai perjalanan Nabi Muhammad SAW dalam semalam, berjumpa para nabi dan menerima perintah shalat. Inilah upaya penjelasannya secara fisika.
Secara definisi, Isra dimaknai sebagai perjalanan malam hari yang dilakukan Nabi Muhammad SAW dari Makkah menuju Baitul Maqdis atau Masjid Al Aqsa. Sementara itu, Miraj adalah peristiwa diangkatnya Rasulullah SAW oleh Allah SWT dari Masjid Al Aqsa melewati langit ketujuh menuju Sidratul Muntaha. Di sana, sang rasul menerima perintah salat lima waktu bagi umat Islam.
Umat Islam menyakini kendaraan yang dipergunakan Nabi Muhammad SAW adalah Buraq yang berarti kilat. Ketua Lembaga Infokom dan Publikasi PBNU, Ishaq Zubaedi Raqib dalam tulisannya di detikHikmah, menjelaskan Buraq adalah makhluk Tuhan berupa cahaya yang tentunya bisa melesat dalam kecepatan cahaya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilansir dari Asia Research News, Jumat (16/1/2026) Buraq secara budaya di berbagai negeri Muslim sering digambarkan sebagai kuda berkepala manusia dalam sejumlah manuskrip dan lukisan yang ditemukan di Persia dan Asia Tengah mulai abad ke-15. Bagaimana penjelasannya secara ilmiah?
Penelitian secara fisika mengenai Buraq salah satunya dilakukan Hismatul Istiqomah dari Universitas Negeri Malang dan Muhammad Ihsan Sholeh dari Universitas Negeri Jember. Penelitian mereka dipublikasikan di Academic Journal of Islamic Studies (AJIS) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Curup, Volume 5 No 1 tahun 2020.
Dalam penelitian berjudul The Concept of Buraq in the Events of Isra Mi'raj: Literature and Physics Perspective, Hismatul dan Ihsan dalam perspektif fisika dijelaskan sebagai cahaya dengan kecepatan tinggi.
Dalam kajian Fisika Kuantum, peristiwa Isra Miraj adalah kejadian fisika yang sesuai dengan teori Anihilasi yang menjelaskan reaksi pembentukan energi sangat besar dari tumbukan materi dan antimateri. Tubuh Nabi Muhammad SAW yang merupakan massa dari materi dihapus dengan massa antimateri dari Malaikat Jibril membentuk satu energi baru yang disebut tim peneliti sebagai Buraq. Secara fisika, Buraq bisa dipasangkan dengan konsep sinar gamma.
Dengan demikian, peristiwa Isra secara fisika adalah Nabi Muhammad SAW mengalami anihilasi, hilang materi fisiknya sebagai manusia dan menjadi energi cahaya. Tim peneliti juga mengaitkan dengan konsep kesetaraan massa yang dirumuskan oleh Albert Einstein. Materi dalam kondisi tertentu dapat diubah menjadi energi, dan sebaliknya.
Setiap objek nyata di alam semesta terdiri dari materi submikroskopis yang dikenal sebagai atom, yang terdiri dari proton, neutron, dan elektron, dan setiap materi memiliki antimateri di dalamnya. Perspektif ini menunjukkan bahwa Buraq bukanlah subjek lain yang mengantarkan Nabi Muhammad SAW dalam Isra, tetapi merupakan bagian dari dirinya sendiri.
Selain itu, reaksi anihilasi juga diklasifikasikan sebagai reaksi yang bisa berkebalikan dengan reaksi materialisasi. Energi yang sangat besar dapat dipecah kembali untuk membentuk materi dan antimateri yang semula bertumbukan.
Berdasarkan konsep fisika ini, setelah peristiwa Isra Miraj, Nabi Muhammad SAW dari termaterialisasi kembali ke bentuk fisik. Nabi Muhammad SAW dapat kembali normal, menjadi sosok nyata yang dapat dirasakan dan dapat berkumpul dengan umatnya seperti biasa.
(fay/fyk)

