Menurut pernyataan resmi pemerintah Iran, kebijakan ini dilakukan karena mereka takut akan spionase yang terjadi di dunia maya, demikian dikutip detikINET dari Yahoo, Selasa (16/5/2015).
Ponsel pintar, dinilai pemerintah Iran, tidak aman. "(Karena) data yang ada di dalamnya pasti di-back up, dan tidak bisa dihapus ataupun diakses," ujar Brigjen Gholamreza Jalali, Kepala Organisasi Keamanan Sipil Iran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aturan anyar ini muncul setelah pembicaraan pemerintah Iran dan negara lain mengenai nuklir dilaporkan terkena penyadapan. Pemerintah Swiss dan Austria mengaku bahwa mereka telah melakukan penyelidikan di hotel tempat pembicaraan itu berlangsung.
Dan hasil penyelidikan itu mengarah kepada Israel, yang sejak awal sudah menentang keras kebijakan diplomasi nuklir. Namun pihak Israel tentu membantah tuduhan tersebut.
Iran sudah beberapa kali menjadi korban serangan cyber. Salah satunya pada tahun 2010, ketika fasilitas nuklir mereka di Natanz diserang oleh Stuxnet, sebuah cyber virus yang mereka klaim dikirim oleh Israel dan Amerika Serikat.
(asj/ash)