Salah satu contoh yang dipaparkan oleh perusahaan keamanan Symantec adalah temuan virus Duqu. Program jahat yang merupakan renkarnasi Stuxnet -- virus penyerang nuklir -- ini merupakan salah satu penyusup yang handal.
"Duqu itu memang dirancang untuk mencuri data di perusahaan, dokumen soal strategi misalnya, atau blueprint rahasia dari perusahaan tertentu," kata Raymond Goh, Director System Engineering Symantec.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekarang bukan lagi data kartu kredit atau sebagainya, tapi sudah mulai mencuri data-data perusahaan dan menjualnya ke komunitas bawah tanah atau perusahaan pesaing," tambah Raymond, di Grand Indonesia, Kamis (15/12/2011).
Bahayanya lagi, menurut survei Critical Infrastructure Protection (CIP) dari Symantec, menyebutkan hanya sekitar 37% perusahaan yang saat ini melengkapi pertahanan mereka dengan aplikasi khusus.
Selain di kalangan enterprise, virus pencuri data juga diprediksi akan banyak menyerang pengguna ponsel, terlebih lagi dengan hadirnya Android.
"Hacker itu memang akan menyerang sistem yang populer saat ini, seperti Android. Kami prediksi akan banyak sekali penyerangan melalui sistem ini," tandas Raymond.
(eno/ash)