Hal itu karena, menurut Senior Director of Product Security and Privacy di Adobe, Brad Arkin, mereka tak mau patch yang disebarkan menyebabkan komputer pengguna tak berfungsi / crash.
"Ini akan menjadi hal yang sangat buruk. Ini sesuatu yang kami sama sekali tak inginkan terjadi," ujarnya seperti dikutip detikINET dari TheRegister, Senin (3/10/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, butuh waktu yang jauh lebih lama untuk memastikan patch tersebut akan berjalan lancar pada semua sistem operasi penggunanya.
Di awal 2009, Adobe butuh waktu 10 minggu mulai dari waktu diketahui adanya kelemahan hingga penyebaran patch. Dalam kasus terbaru di 2011, waktu totalnya hanya mencapai 72 jam.
Tak heran jika Adobe berusaha keras mempersingkat waktu update pada kelemahan di Flash dan Reader. Kedua aplikasi itu diperkirakan dipakai oleh 100-an juta komputer di dunia, dengan sistem operasi beragam mulai dari Windows, OS X, Linux hingga Solaris.
Di Maret 2011, kelemahan pada Adobe Flash jadi 'pintu masuk' serangan ke vendor keamanan RSA Security. Serangan yang melongsorkan efektivitas keamanan SecurID, yang digunakan kurang lebih 40 juta karyawan di sektor korporasi dan pemerintahan.
Arkin juga berjanji akan ada perbaikan pada cara instalasi patch keamanan di piranti lunak mereka. "Semakin banyak pengguna yang melakukan update dengan mudah, penjahat akan makin tidak suka," ujarnya dalam Qualys Security Conference di San Francisco, AS.
(wsh/wsh)