Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Warga Khawatir Warna Merah Peta SO2 Anak Krakatau, Ini Faktanya

Warga Khawatir Warna Merah Peta SO2 Anak Krakatau, Ini Faktanya


Rachmatunnisa - detikInet

Peta SO2 akibat erupsi Gunung Anak Krakatau berada di wilayah Jakarta. (IG/Badan Geologi)
Foto: IG/Badan Geologi
Jakarta -

Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda tidak hanya menghasilkan abu vulkanik dan lontaran batu pijar. Aktivitas erupsi juga melepaskan sulfur dioksida atau SO2, gas vulkanik yang dapat terdeteksi oleh satelit dan terbawa mengikuti dinamika atmosfer.

Beberapa hari sebelumnya, ramai terkait kemunculan warna merah pada peta sebaran SO2 di sejumlah wilayah, dan menimbulkan kekhawatiran masyarakat. Namun, warna merah pada peta tersebut tidak serta-merta berarti udara di permukaan wilayah tersebut berbahaya untuk dihirup.

Melalui akun Instagram resminya, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjelaskan hal tersebut. Badan Geologi menegaskan bahwa peta satelit yang menampilkan sebaran SO2 menunjukkan jumlah SO2 dalam seluruh kolom atmosfer pada ketinggian tertentu, bukan konsentrasi gas yang berada tepat di permukaan dan dihirup manusia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Peta satelit menunjukkan jumlah SO2 di seluruh kolom atmosfer pada ketinggian tertentu, bukan konsentrasi gas di permukaan yang kita hirup," jelas lembaga tersebut seperti dikutip detikINET melalui akun @badan.geologi.

ADVERTISEMENT

[Gambas:Instagram]

Peta SO2 Berwarna Merah

Badan Geologi menjelaskan, warna merah pada peta tersebut menunjukkan adanya anomali SO2 dengan konsentrasi lebih tinggi dibandingkan kondisi normal di atmosfer. Dengan demikian, warna merah tidak bisa langsung digunakan sebagai indikator bahwa kualitas udara di permukaan suatu wilayah sedang berbahaya.

Hal penting lainnya adalah satuan yang digunakan pada peta. Peta sebaran SO2 tersebut menggunakan satuan mg/mΒ², yang menggambarkan massa SO2 per satuan luas kolom udara. Satuan ini berbeda dengan ppm, yang digunakan untuk menyatakan konsentrasi gas di udara yang dihirup manusia.

Dengan demikian, area berwarna merah bukan berarti masyarakat yang tinggal di bawah area tersebut otomatis sedang menghirup SO2 dalam konsentrasi berbahaya. Lalu, mengapa bau SO2 dari Anak Krakatau yang menyerupai belerang bisa tercium?

Untuk diketahui, bukan berarti SO2 dari aktivitas Anak Krakatau sama sekali tidak dapat mencapai permukaan. Bahaya SO2 bagi manusia sangat bergantung pada ketinggian gas tersebut berada di troposfer.

Badan Geologi membandingkan kondisi erupsi Gunung Ruang pada 2024 dengan erupsi Anak Krakatau pada 2026. Pada erupsi Gunung Ruang, gas dapat terlepas hingga sekitar 5.000 meter dan berada di bagian atas troposfer.

Kondisi tersebut membuat gas tidak langsung terhirup masyarakat di permukaan. Sementara pada aktivitas Gunung Anak Krakatau, fenomena lava fountain atau semburan lava menerus membuat gas dilepaskan ke bagian atmosfer yang lebih rendah. Ketika gas berada relatif dekat dengan permukaan dan terbawa angin, bau SO2 dapat tercium oleh masyarakat di wilayah yang lebih jauh dari sumber erupsi.

Seberapa Berbahaya Gas SO2?

Sulfur dioksida merupakan gas vulkanik yang tidak berwarna dan memiliki bau menyengat. Dampaknya terhadap manusia bergantung antara lain pada konsentrasi gas dan lama paparan.

Badan Geologi menyebut, konsentrasi SO2 hingga 5 ppm masih berada pada tingkat yang dinyatakan aman bagi kesehatan. Namun, apabila konsentrasi melampaui ambang tersebut, paparan SO2 dapat menimbulkan sejumlah gangguan seperti batuk, sesak napas, iritasi mata, serta iritasi saluran pernapasan dan paru-paru.

Karena itu, masyarakat yang mencium bau SO2 akibat aktivitas gunung api tetap dianjurkan mengambil langkah pencegahan seperti menggunakan masker, terutama ketika beraktivitas di luar ruangan, berlindung di dalam rumah atau bangunan untuk mengurangi paparan gas, serta tidak meminum air hujan, karena gas sulfur dapat bereaksi dengan uap air dan berpotensi membuat air hujan bersifat asam.

Di tengah kekhawatiran mengenai SO2, masyarakat juga perlu memperhatikan bahwa status aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Karena itu, masyarakat dan wisatawan diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.



(rns/rns)




Hide Ads
LIVE