Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Abu Vulkanik Terbentuk dari Apa? Begini Prosesnya

Abu Vulkanik Terbentuk dari Apa? Begini Prosesnya


Rachmatunnisa - detikInet

Warga Palabuhanratu, Sukabumi memperlihatkan debu diduga abu vulkanik Gunung Anak Krakatau
Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau di tangan warga Pelabuhanratu, Sukabumi (Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar)
Jakarta -

Abu vulkanik kerap terlihat seperti debu halus yang turun dari langit saat gunung api meletus. Namun, material berwarna abu-abu atau hitam itu sebenarnya bukan abu seperti sisa pembakaran kayu atau kertas.

Abu vulkanik merupakan kumpulan partikel sangat kecil dari batuan, mineral, dan kaca vulkanik (silika) yang terlempar ke udara saat terjadi erupsi. Ukurannya bisa sangat kecil, bahkan kurang dari 0,001 milimeter, hingga sekitar 2 milimeter.

Lantas, bagaimana magma yang berada jauh di dalam Bumi bisa berubah menjadi partikel-partikel kecil tersebut? Prosesnya bermula dari magma, yakni batuan cair panas yang berada di bawah permukaan Bumi. Magma mengandung gas yang terlarut di dalamnya, terutama uap air, karbon dioksida, dan sulfur dioksida.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikutip dari How Stuff Works, ketika magma bergerak naik menuju permukaan, tekanan di sekitarnya semakin berkurang. Gas yang sebelumnya terlarut di dalam magma kemudian mengembang dan berusaha keluar. Pada magma yang encer, gas relatif mudah keluar sehingga letusan cenderung tidak terlalu eksplosif dan magma dapat mengalir sebagai lava.

Sebaliknya, magma yang lebih kental membuat gas lebih sulit keluar. Tekanan pun menumpuk sampai akhirnya gas dilepaskan secara sangat cepat. Ledakan tersebut memecah magma menjadi serpihan-serpihan kecil dan melemparkannya ke udara.

ADVERTISEMENT

Sederhananya, proses ini mirip seperti membuka botol minuman bersoda yang dikocok. Gas yang tiba-tiba keluar membawa cairan bersamanya. Bedanya, pada gunung api, tekanan gas yang sangat besar dapat menghancurkan magma menjadi partikel berukuran sangat kecil.

Abu vulkanik juga tidak selalu berasal dari magma baru. Saat magma bergerak menuju permukaan, material tersebut dapat merobek atau menghancurkan batuan yang berada di dalam saluran gunung api. Fragmen batuan itu kemudian ikut terlontar dan menjadi bagian dari abu.

Menurut US Geological Survey (USGS), abu vulkanik biasanya terdiri atas tiga komponen utama, yakni pecahan kaca vulkanik (silika), mineral atau kristal, serta fragmen batuan lainnya. Bentuk partikelnya pun tidak seperti butiran debu biasa.

Pecahan kaca dan batuan vulkanik dapat memiliki permukaan yang tajam dan tidak beraturan. Karena itu, abu vulkanik bersifat keras dan abrasif. Inilah salah satu alasan abu vulkanik dapat menjadi masalah serius bagi manusia maupun berbagai perangkat. USGS menyebut abu dapat mengganggu kesehatan, merusak mesin dan elektronik, mengganggu telekomunikasi, serta membahayakan pesawat yang melintas di dalam atau dekat awan abu.

Abu Bisa Terbang Jauh

Setelah terlontar ke atmosfer, tidak semua partikel abu langsung jatuh kembali ke tanah. Partikel yang berukuran lebih besar biasanya jatuh lebih dekat dengan gunung api. Sebaliknya, partikel yang sangat halus dapat terbawa angin dalam jarak yang jauh.

Seberapa jauh abu bergerak dipengaruhi oleh ukuran partikelnya, kecepatan dan arah angin, serta jenis dan kekuatan erupsi. Letusan yang sangat kuat dapat mendorong abu hingga lapisan atmosfer yang jauh lebih tinggi sehingga material tersebut berpotensi menyebar ke wilayah yang luas.

Itulah sebabnya wilayah yang jauh dari gunung api pun dapat mengalami hujan abu. Dalam kondisi tertentu, partikel abu yang sangat halus bahkan dapat bertahan di atmosfer dan berinteraksi dengan uap air.

Partikel tersebut dapat menjadi inti kondensasi, tempat uap air berkumpul untuk membentuk awan. Pada letusan yang sangat besar, material vulkanik yang mencapai atmosfer tinggi juga dapat memengaruhi suhu global untuk sementara.

Jadi, meski disebut abu, material ini sebenarnya lebih tepat dipahami sebagai pecahan sangat kecil dari batuan, mineral, dan kaca vulkanik yang tercipta akibat kekuatan erupsi.

Dan justru karena bentuknya yang sangat kecil, tajam, serta mudah terbawa angin, abu vulkanik bisa menjadi salah satu bagian dari letusan gunung api yang dampaknya menjangkau jauh dari sumbernya.



(rns/fay)






Hide Ads