Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Karhutla Indonesia Meningkat, El Nino Bikin Kebakaran Makin Parah

Karhutla Indonesia Meningkat, El Nino Bikin Kebakaran Makin Parah


Agus Tri Haryanto - detikInet

A drone view of people riding a wooden boat crossing the Kapuas river as haze from wildfires blankets the area in Pontianak, West Kalimantan province, Indonesia, August 27, 2026. REUTERS/Willy Kurniawan
Karhutla Indonesia Meningkat, El Nino Bikin Kebakaran Makin Parah Foto: REUTERS/Willy Kurniawan
Jakarta -

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia yang meningkat dalam beberapa waktu terakhir menjadi sorotan. Situasi ini berpotensi semakin parah seiring dengan fenomena El Nino yang dapat memicu kondisi lebih kering dan meningkatkan intensitas kebakaran.

Dalam laporan diterbitkan pada 21 Agustus lalu, Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS) menyebut kondisi kebakaran musiman tahun ini relatif normal, tetapi intensitasnya lebih tinggi dibandingkan beberapa tahun terakhir.

CAMS mengatakan emisi kebakaran hutan meningkat signifikan di sejumlah wilayah dalam dua pekan terakhir. Kondisi tersebut terjadi ketika musim kebakaran mulai meningkat di Indonesia dan diperkirakan semakin dipengaruhi oleh fenomena El Nino.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

"Kebakaran musiman dan kabut asap regional di Indonesia sudah meningkat, konsisten dengan tahun-tahun El Nino sebelumnya, dan kami akan memantau situasi dengan sangat ketat untuk memahami bagaimana kebakaran dan dampaknya terhadap kualitas udara berubah," kata Mark Parrington, ilmuwan senior di ECMWF yang bekerja untuk CAMS dikutip detikINET, Senin (31/8/2027).

CAMS mencatat kebakaran musiman yang intens mulai terjadi di Indonesia pada akhir Juli. Situasi tersebut dinilai relatif normal, tetapi kebakaran yang terus terjadi dibandingkan tahun-tahun terakhir di tengah upaya di kawasan untuk mengurangi pembakaran lahan pertanian dan kabut asap yang dihasilkannya.

Musim kebakaran tahun ini diperkirakan menjadi lebih sulit karena kondisi positif El Nino Southern Oscillation (ENSO) yang kuat di kawasan Pasifik ekuatorial. Fenomena tersebut kerap bertepatan dengan kondisi kering di kawasan Indonesia dan dapat diperkuat oleh Indian Ocean Dipole (IOD) positif.

Menurut CAMS, kemunculan IOD positif berlangsung bersamaan dengan perkembangan El Nino yang luar biasa. Meski demikian, kedua fenomena iklim tersebut juga dapat berkembang secara terpisah.

CAMS menyebut IOD saat ini berada dalam kondisi netral, tetapi diperkirakan menuju kondisi positif yang kuat. Sistem pemantauan atmosfer Copernicus ini menjelaskan kebakaran awal pada musim ini terutama terkonsentrasi di Pulau Kalimantan, khususnya di Provinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Wilayah tersebut memiliki lahan gambut yang luas dan sulit dikelola ketika kebakaran besar sudah terjadi.

Kebakaran intens juga terjadi di wilayah lain. CAMS mencatat kebakaran parah di Papua Selatan, tepatnya di sekitar Taman Nasional Wasur, kawasan yang terdiri dari lahan basah dan sabana. Kebakaran juga terdeteksi di Sumatra.

Fenomena kebakaran intens di Indonesia pada 2026 dinilai sejalan dengan pola yang terlihat pada sejumlah tahun El Nino sebelumnya.

CAMS mencatat kebakaran intens pernah terjadi di Indonesia pada tahun-tahun El Nino 1997, 2005/2006, 2015, 2019 dan 2023. Menurut lembaga tersebut, 2026 tampaknya tidak menjadi pengecualian.

Dampak kebakaran tidak hanya dirasakan di sekitar lokasi sumber api. CAMS menyebut kabut asap dari kebakaran Indonesia telah menyebar ke kawasan regional.

Kabut asap tersebut berdampak pada sejumlah wilayah di negara tetangga, termasuk Singapura dan Malaysia. Di Pontianak, Kalimantan Barat, puluhan sekolah disebut telah ditutup akibat kondisi tersebut.

CAMS juga mencatat bahwa otoritas Indonesia berupaya mengendalikan kebakaran melalui operasi modifikasi cuaca menggunakan pesawat khusus, berdasarkan laporan media yang dikutip dalam laporan tersebut.

Di sisi lain, Copernicus memantau kebakaran besar di belahan bumi utara. Kebakaran di Amerika Utara dan Rusia bagian timur menghasilkan kepulan asap tebal yang terbawa mengelilingi Belahan Bumi Utara dan melintasi Samudra Arktik sepanjang Agustus.

Data Global Fire Assimilation System (GFAS) yang digunakan CAMS menunjukkan emisi kebakaran 2026 hingga saat laporan dibuat berada di atas rata-rata untuk wilayah lintang utara yang tinggi, yakni antara 60 hingga 66,6 derajat Lintang Utara. Tahun ini juga termasuk salah satu tahun dengan emisi tertinggi di wilayah utara 66,6 derajat Lintang Utara atau Lingkar Arktik.

Untuk memantau kebakaran, CAMS menggunakan GFAS yang memanfaatkan pengamatan satelit terhadap Fire Radiative Power (FRP), yakni ukuran energi yang dilepaskan oleh kebakaran aktif. Data tersebut digunakan untuk menghasilkan estimasi emisi kebakaran dan pembakaran biomassa secara hampir real-time.

Sistem ini kemudian menggunakan sistem prakiraan ECMWF untuk memperkirakan dampak asap terhadap kualitas udara hingga lima hari ke depan. Data tersebut mencakup estimasi berbagai polutan atmosfer, termasuk partikulat, nitrogen oksida, dan senyawa organik volatil.

GFAS juga menyediakan data harian mengenai intensitas kebakaran, material kering yang terbakar, ketinggian injeksi asap, serta emisi berbagai spesies kimia. CAMS menyatakan seluruh data tersebut tersedia secara bebas melalui Atmosphere Data Store serta sejumlah grafik dan aplikasi pemantauan.



(agt/afr)






Hide Ads
LIVE