Astronom menemukan planet yang membuat teori pembentukan planet kembali dipertanyakan. Planet bernama GJ 523b ini memiliki massa sekitar 23 kali Bumi, tetapi ukurannya hanya 2,5 kali radius Bumi.
Yang membuatnya semakin aneh, GJ 523b memiliki orbit yang hampir tegak lurus terhadap bidang orbit bintang induknya. Kondisi ini membuatnya masuk kategori langka yang disebut mega-Earth atau Bumi raksasa.
Planet tersebut ditemukan oleh tim yang dipimpin mahasiswa pascasarjana Max Kroft dan astronom Thomas Beatty dari University of Wisconsin-Madison. GJ 523b mengorbit bintangnya, GJ 523, setiap 17,8 hari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
GJ 523b memiliki radius sekitar 2,5 kali Bumi, tetapi massanya mencapai 23 kali Bumi. Dengan demikian, kepadatannya sekitar 50% lebih tinggi daripada Bumi. Kondisi ini tergolong tidak biasa. Planet dengan ukuran antara Bumi dan Neptunus umumnya terbagi menjadi dua kelompok besar.
Pertama, super-Earth, planet berbatu yang ukurannya hingga sekitar dua kali Bumi. Kedua, sub-Neptune, planet yang lebih besar dan biasanya memiliki selubung gas tebal sehingga kepadatannya lebih rendah.
GJ 523b tidak cocok dengan kedua kategori tersebut. Ukurannya terlalu besar untuk kelompok super-Earth, tetapi kepadatannya terlalu tinggi untuk menjadi sub-Neptune. Keanehan GJ 523b semakin jelas ketika melihat massanya.
Planet dengan massa sebesar itu memiliki gravitasi yang cukup kuat untuk mempertahankan gas hidrogen. Karena itu, secara teori, planet tersebut seharusnya memiliki atmosfer tebal dan lebih menyerupai sub-Neptune.
Namun, pengamatan justru menunjukkan sedikit atau hampir tidak ada gas di sekelilingnya. Salah satu kemungkinan adalah GJ 523b dahulu berada jauh lebih dekat dengan bintangnya. Suhu ekstrem di lokasi tersebut mungkin membuat hidrogennya terlepas ke angkasa.
Masalahnya, skenario itu masih menyisakan pertanyaan, jika memang pernah berada dekat bintang, apa yang kemudian membuat planet tersebut berpindah ke orbit sekarang?
Kemungkinan lain adalah planet ini terbentuk dari tabrakan dua planet yang masing-masing memiliki massa beberapa kali Bumi. Tumbukan tersebut dapat menghasilkan panas besar dan membantu melepaskan sebagian besar hidrogen.
Keanehan GJ 523b tidak berhenti pada ukuran dan kepadatannya. Planet ini memiliki orbit yang hampir polar, artinya jalur orbitnya hampir tegak lurus terhadap bidang ekuator bintang. Sebagian besar planet diketahui mengorbit pada bidang yang relatif sejajar dengan ekuator bintangnya.
Salah satu penjelasan yang mungkin adalah adanya planet lain berukuran jauh lebih besar yang pernah mengganggu orbit GJ 523b melalui gravitasi. Namun, planet pendamping tersebut belum ditemukan.
Astronom berharap pengamatan lebih lanjut menggunakan metode radial velocity serta data mendatang dari teleskop Gaia dapat membantu mengungkap apakah ada planet raksasa yang selama ini tersembunyi di sistem tersebut.
Penemuan GJ 523b juga penting karena membantu astronom memastikan bahwa mega-Earth memang merupakan kelompok planet yang nyata, bukan sekadar keanehan dari satu objek.
"Selama satu dekade terakhir, sampelnya berkembang menjadi 13 dunia seperti ini, dan akhirnya jumlah itu cukup untuk melakukan analisis statistik," kata salah satu peneliti studi ini, Thomas Beatty seperti dikutip dari IFLScience.
Menurut Beatty, analisis terhadap populasi planet menunjukkan 13 objek tersebut berada di luar dua kelompok planet yang selama ini lebih dikenal. GJ 523b menjadi planet yang membantu jumlah sampel melewati ambang tersebut.
Sementara itu, peneliti lainnya, Max Kroft, menegaskan bahwa masih terlalu dini menarik kesimpulan besar hanya dari satu planet. "Sulit menyimpulkan pembentukan planet secara umum dari sampel satu planet," sebutnya.
Para peneliti berharap semakin banyak mega-Earth ditemukan. Jika jumlahnya bertambah, astronom mungkin bisa melihat pola yang menjelaskan bagaimana planet sebesar ini dapat terbentuk, kehilangan atmosfernya, dan berakhir dalam orbit yang tidak biasa.
Dengan kata lain, GJ 523b bukan sekadar planet besar yang aneh. Planet ini menjadi petunjuk bahwa alam semesta mungkin memiliki jalur pembentukan planet yang jauh lebih beragam daripada yang selama ini diperkirakan.