Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Gua Raksasa Ini Punya Hutan, Sungai, dan Cuaca Sendiri

Gua Raksasa Ini Punya Hutan, Sungai, dan Cuaca Sendiri


Rachmatunnisa - detikInet

Hang Son Doong merupakan gua terbesar di dunia. Pemandangan di dalamnya sangat menakjubkan sampai bikin merinding melihatnya.
Foto: John Spies via Mirror
Jakarta -

Di tengah hutan Taman Nasional Phong Nha-Ke Bang, Vietnam, tersembunyi sebuah gua yang begitu besar hingga memiliki hutan hujan, sungai, awan, bahkan cuacanya sendiri. Gua bernama Son Doong ini bukan sekadar gua terbesar di dunia, tetapi juga menjadi laboratorium alami yang membantu ilmuwan memahami bagaimana kehidupan dapat berkembang di lingkungan yang terisolasi selama jutaan tahun.

Son Doong pertama kali ditemukan oleh warga lokal, Ho Khanh, pada 1990. Namun baru pada 2009 gua tersebut berhasil dieksplorasi secara menyeluruh oleh tim British Cave Research Association (BCRA) yang dipimpin Howard Limbert. Sejak saat itu, Son Doong dikenal sebagai gua terbesar di dunia berdasarkan volume.

Dikutip dari SpaceDaily, sebagai penggambaran betapa raksasanya ukuran Son Doong, sebuah blok bangunan pencakar langit di New York City bisa muat di salah satu lorong utamanya. Son Doong memiliki panjang lebih dari 9 kilometer dengan beberapa lorong yang tingginya mencapai sekitar 200 meter dan lebarnya hingga 150 meter.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di dalamnya mengalir sungai bawah tanah yang terus membentuk lorong-lorong batu kapur selama jutaan tahun. Yang paling menakjubkan, sebagian atap gua runtuh secara alami sehingga sinar Matahari dapat masuk ke dalam.

Cahaya tersebut memungkinkan pepohonan tumbuh subur hingga membentuk hutan hujan bawah tanah yang dijuluki Garden of Edam. Ekosistem ini dihuni berbagai tumbuhan, burung, serangga, hingga monyet yang sesekali masuk melalui lubang raksasa di atap gua.

ADVERTISEMENT

Ukuran Son Doong yang luar biasa juga memunculkan fenomena langka, yakni iklim mikro. Perbedaan suhu antara udara di dalam gua dan udara luar memicu terbentuknya kabut, awan, bahkan hujan lokal di beberapa bagian gua. Fenomena ini membuat Son Doong sering disebut sebagai gua yang memiliki cuaca sendiri.

Menurut para peneliti, proses tersebut terjadi ketika udara hangat dan lembap bertemu dengan udara yang lebih dingin di dalam lorong raksasa, sehingga uap air mengembun menjadi kabut.

Son Doong terbentuk akibat aliran sungai yang mengikis batuan kapur sejak sekitar 2 hingga 5 juta tahun lalu. Erosi yang berlangsung perlahan memperbesar lorong bawah tanah hingga menjadi ruang raksasa seperti sekarang.

Ketika sebagian langit-langit gua runtuh, terbentuklah dolina atau lubang runtuhan yang kemudian menjadi pintu masuk cahaya dan memicu munculnya ekosistem baru. Para ahli menyebut proses ini sebagai contoh luar biasa interaksi antara geologi, hidrologi, dan biologi dalam satu tempat.

Meski telah dikenal dunia, sebagian wilayah Son Doong masih belum sepenuhnya dipetakan. Para ilmuwan terus meneliti gua ini untuk mencari spesies baru, memahami evolusi ekosistem bawah tanah, hingga mempelajari proses pembentukan bentang alam karst tropis.

Bagi para peneliti, Son Doong menjadi bukti bahwa masih banyak keajaiban geologi di Bumi yang belum sepenuhnya terungkap. Di balik lorong-lorong batu kapurnya yang raksasa, gua ini menyimpan dunia yang berkembang dengan aturan alamnya sendiri.



(rns/rns)




Hide Ads