Raja Inggris Charles III, mendesak para pemimpin industri untuk mencari cara dalam mengendalikan AI sebelum terlambat. Ia menyebut laju perkembangan AI menarik sekaligus sangat mengkhawatirkan.
"Tampaknya ada urgensi untuk benar-benar mempertimbangkan bahaya eksistensial jika teknologi semacam ini jatuh ke tangan yang salah, dan digunakan dengan cara-cara yang berpotensi mendatangkan bencana," ungkapnya.
"Tentu saja, kita membutuhkan sistem kendali yang memadai sebelum semuanya benar-benar terlambat, bukan?" imbuhnya yang dikutip detikINET dari CNN.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pernyataan ini muncul di tengah peringatan keras dari para whistleblower dan sejumlah pemimpin industri mengenai potensi bahaya AI, serta adanya desakan untuk memperlambat laju perkembangannya.
Charles mengakui potensi besar AI, khususnya di bidang medis, sebelum mendesak untuk mendiskusikan cara-cara pemanfaatan teknologi ini untuk kebaikan.
Anggota kerajaan Inggris selalu melangkah dengan hati-hati ketika bersinggungan dengan ranah kebijakan yang kompleks. Mereka dapat menyoroti suatu masalah, tetapi tidak bisa mendiktekan cara penyelesaiannya.
Charles merambah dunia AI sebagai fasilitator. Ia menjamu para petinggi dari berbagai perusahaan AI, pemerintah, dan badan amal dalam pertemuan di Dumfries House, dekat Glasgow, Skotlandia.
Beberapa tokoh penting AI turut hadir, termasuk CEO Nvidia Jensen Huang, pendiri Google DeepMind Demis Hassabis, dan Paolo Benanti, penasihat AI untuk Vatikan. Istana Buckingham menyatakan perwakilan dari China turut hadir. Di acara tersebut, Huang mengatakan ke BBC bahwa perusahaan AI harus lebih ketat dalam pengujian dan pengamanan.
Kehadiran Benanti menggarisbawahi peran para pemuka agama dalam menyikapi isu ini. Paus Leo XIV sebelumnya mengatakan bahwa AI tidak boleh hanya dikuasai oleh segelintir orang.
Melindungi Privasi
Sang Raja jarang membicarakan tentang AI sebelumnya. "Teknologi ini membawa tantangan besar," ucapnya dalam rekaman pidato pada acara AI Safety Summit di Inggris tahun 2023.
Ia menyerukan ke para peserta untuk melindungi privasi dan mata pencaharian masyarakat guna mengamankan demokrasi dari ancaman dan memastikan bahwa manfaat teknologi baru ini dapat dirasakan oleh semua orang.
Senada dengan hal tersebut, ia juga menyinggung pentingnya memanfaatkan AI agar dapat membantu kehidupan masyarakat, bukan merugikannya, dalam pidato di pertemuan kepala pemerintahan negara-negara Persemakmuran tahun 2024.
Inggris berada di posisi yang sedikit serba salah dalam keamanan AI. Negara ini memiliki sejumlah universitas terkemuka dunia dan AI Security Institute yang disegani, tapi pengaruhnya terbatas mengingat model AI tercanggih saat ini dikembangkan di China dan Amerika Serikat.