Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Gempa Dahsyat Jepang, Kecanggihan Teknologi vs Kuatnya Alam

Gempa Dahsyat Jepang, Kecanggihan Teknologi vs Kuatnya Alam


Fino Yurio Kristo - detikInet

A shrine that had collapsed after an earthquake with a magnitude of 7.1 struck Japans southern Kumamoto prefecture, in Yatsushiro City, Kumamoto Prefecture, Japan, July 29, 2026. Kyodo/via REUTERS ATTENTION EDITORS - THIS IMAGE HAS BEEN SUPPLIED BY A THIRD PARTY. MANDATORY CREDIT. JAPAN OUT. NO COMMERCIAL OR EDITORIAL SALES IN JAPAN.   REFILE - CORRECTING LOCATION FROM
Gempa dahsyat yang melanda Kumamoto, Jepang. Foto: via REUTERS/KYODO
Jakarta -

Hampir tidak ada negara lain di dunia yang begitu sering diguncang gempa bumi merusak selain Jepang, negara yang terletak di pertemuan empat lempeng tektonik, yaitu lempengan kerak Bumi yang terus bergerak.

Jepang juga berada di kawasan Ring of Fire (Cincin Api), sabuk sepanjang sekitar 40.000 kilometer membentang mengelilingi Samudra Pasifik, tempat sebagian besar gunung berapi paling aktif di dunia berada sekaligus lokasi terjadinya gempa terbanyak.

Dampak dari gempa terlihat jelas pekan ini setelah gempa magnitudo 6,8 melanda Prefektur Kumamoto. Namun Jepang punya kesiapsiagaan sangat baik menghadapi bencana semacam ini. Mereka menginvestasikan miliaran dolar untuk teknologi pendeteksi gempa mutakhir, sistem tanggap darurat, serta infrastruktur tahan gempa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagi penduduk Jepang, gempa bagian dari kehidupan. Anak-anak berlatih simulasi gempa dan evakuasi sejak taman kanak-kanak. Meski demikian, ancaman tersebut tetap membayangi benak publik.

Gempa yang terjadi hari Selasa tersebut menewaskan setidaknya 13 orang. Sejumlah orang lainnya dinyatakan hilang atau luka-luka. Ada kekhawatiran masih ada warga terjebak di bawah reruntuhan infrastruktur yang rusak.

ADVERTISEMENT

Kepolisian dan pemadam kebakaran bekerja sama dengan militer dalam operasi penyelamatan. "Warga masih menunggu pertolongan dan setiap detik sangat berharga," ujar Perdana Menteri Sanae Takaichi. Kumamoto sendiri baru saja pulih dari gempa lebih besar tahun 2016, yang menewaskan lebih dari 270 orang.

Sejarah Panjang Bencana

Sejarah Jepang dipenuhi gempa menghancurkan. Sepanjang era klasik dan feodal, gempa rutin melanda kota besar maupun kecil, menyapu bangunan-bangunan berbahan kayu dan kertas yang rentan terhadap kebakaran pascagempa.

Salah satu gempa sangat merusak pada tahun 1498 diperkirakan menewaskan lebih dari 30.000 orang. Gempa Besar Kanto tahun 1923 menjadi momen kelam lainnya, meluluhlantakkan sebagian besar Tokyo dan menewaskan sekitar 140.000 orang.

Jepang mulai memberlakukan standardisasi bangunan tahan gempa lebih ketat tahun 1980-an-yang terbukti efektif saat gempa Kobe tahun 1995 yang menewaskan lebih dari 6.000 orang. Hampir seluruh bangunan yang runtuh saat itu dibangun sebelum adanya aturan baru.

Hal ini memicu dorongan untuk meningkatkan ketahanan terhadap gempa dan merekonstruksi bangunan lama agar sesuai standar baru. Sebagai salah satu negara terkaya, Jepang memiliki kapasitas memanfaatkan teknologi dan anggaran untuk mengantisipasi gempa.

Namun, kecanggihan teknologi tetap terbatas. Bencana Tohoku tahun 2011 dengan gempa bumi bermagnitudo 9,1 dan tsunami, menewaskan hampir 20.000 orang. Ribuan lainnya tidak pernah ditemukan.

Gempa dengan skala lebih kecil pun secara rutin masih dapat memakan korban jiwa. Gempa bumi bermagnitudo 7,1 menewaskan lebih dari 700 orang di Noto, Jepang barat, pada tahun 2024.

"Sekitar 10% gempa di dunia dengan magnitudo 6 ke atas terjadi di atau sekitar Jepang, sehingga risikonya jauh lebih tinggi dibanding tempat seperti Eropa atau bagian timur Amerika Serikat, di mana gempa jarang terjadi," ungkap Shoichi Yoshioka, profesor di Universitas Kobe.

"Setiap kali menyaksikan hilangnya nyawa secara tragis, gedung hancur, dan tsunami, meninggalkan kesan ketakutan mendalam. Ketakutan ini kemungkinan besar dirasakan banyak warga. Saya rasa inilah faktor signifikan yang mendorong mengapa Jepang begitu siap siaga," imbuhnya.



(fyk/fay)






Hide Ads