Selama puluhan tahun, para astronom meyakini Bumi pada akhirnya akan ditelan Matahari ketika bintang induk Tata Surya itu mengembang menjadi raksasa merah (red giant) sekitar lima miliar tahun lagi. Namun, penelitian terbaru menunjukkan nasib planet kita mungkin tidak seburuk yang diperkirakan.
Studi yang diterbitkan dalam jurnal Astronomy & Astrophysics menyebut Bumi memiliki peluang untuk lolos dari proses tersebut, meski nasib akhirnya masih bergantung pada bagaimana Matahari kehilangan massanya pada tahap akhir kehidupan.
Penelitian dipimpin oleh Mats Esseldeurs, astronom dari Institute of Astronomy, KU Leuven (Belgia), bersama StΓ©phane Mathis dan Leen Decin. Tim menggunakan model terbaru mengenai evolusi bintang dan interaksi gravitasi untuk menghitung kembali bagaimana orbit Bumi akan berubah ketika Matahari memasuki fase raksasa merah dan kemudian menjadi bintang Asymptotic Giant Branch (AGB).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama ini, model lama memprediksi Matahari yang terus mengembang akan menelan Merkurius, Venus, dan akhirnya Bumi. Namun, model terbaru menemukan adanya dua proses yang saling bersaing.
Di satu sisi, gaya pasang surut gravitasi (tidal forces) berusaha menarik Bumi semakin mendekati Matahari. Di sisi lain, Matahari akan kehilangan massa dalam jumlah besar melalui angin bintang. Ketika massa Matahari berkurang, gaya gravitasinya ikut melemah sehingga orbit Bumi justru dapat bergeser menjauh.
Jika kehilangan massa berlangsung cukup cepat, Bumi diperkirakan berhasil menghindari mulut Matahari yang terus membesar. Namun jika prosesnya lebih lambat, planet ini tetap berisiko tertelan.
"Nasib Bumi bergantung pada keseimbangan yang sangat rumit," tulis para peneliti dalam makalah mereka, seperti dikutip dari The New York Post.
Untuk memperkuat model mereka, para ilmuwan mempelajari L2 Puppis, bintang yang berjarak sekitar 200 tahun cahaya dari Bumi dan memiliki karakteristik yang diperkirakan mirip dengan Matahari pada masa tuanya.
Pengamatan terhadap bintang tersebut menunjukkan laju kehilangan massa yang dapat menjadi petunjuk mengenai masa depan Matahari.
Menggunakan data tersebut, simulasi menunjukkan Bumi kemungkinan dapat bertahan melewati fase raksasa merah maupun fase AGB. Namun, para peneliti menegaskan masih ada ketidakpastian karena laju kehilangan massa Matahari di masa depan belum bisa dipastikan secara akurat.
Meski Bumi mungkin tidak tertelan Matahari, bukan berarti planet ini akan tetap layak dihuni. Jauh sebelum Matahari mencapai akhir hidupnya, luminositasnya akan terus meningkat. Dalam sekitar satu miliar tahun, suhu Bumi diperkirakan menjadi terlalu panas bagi kehidupan kompleks.
Lautan akan mulai menguap, atmosfer berubah drastis, dan kehidupan seperti yang kita kenal saat ini hampir pasti punah. Dengan kata lain, jika Bumi benar-benar selamat dari kematian Matahari, kemungkinan besar yang tersisa hanyalah planet tandus tanpa kehidupan.
Meski demikian, penelitian ini tetap penting karena mengubah pemahaman ilmuwan mengenai evolusi Tata Surya. Selama bertahun-tahun, skenario Bumi ditelan Matahari dianggap hampir pasti. Kini, model terbaru menunjukkan peluang lain masih terbuka, meski hasil akhirnya sangat bergantung pada bagaimana Matahari berevolusi miliaran tahun dari sekarang.
(rns/rns)