Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Misi Darurat NASA: Selamatkan Observatorium 'Swift' dari Kehancuran

Misi Darurat NASA: Selamatkan Observatorium 'Swift' dari Kehancuran


Anggoro Suryo - detikInet

Ilustrasi penyelamatan telekop Swift oleh wahana antariksa Link
Foto: Katalyst Space Technologies
Jakarta -

Observatorium luar angkasa Swift milik NASA yang diluncurkan pada tahun 2004 kini berada dalam bahaya besar. Badai matahari yang terjadi baru-baru ini telah mendorong orbit satelit tersebut menjadi semakin rendah, sehingga memunculkan risiko hancur terbakar di atmosfer Bumi pada tahun ini.

Untuk mencegah insiden tersebut, NASA telah menggandeng startup antariksa Katalyst Space Technologies. Wahana antariksa milik perusahaan tersebut, yang diberi nama Link, telah resmi diluncurkan pada hari Jumat lalu dengan misi krusial: mencegat Swift--yang tidak memiliki sistem propulsi mandiri--dan mengangkat orbitnya kembali ke posisi semula.

Saat ini, Observatorium Swift mengorbit pada ketinggian kritis 224 mil (sekitar 360 km), dan wahana Link ditargetkan mampu mengangkatnya sekitar 150 mil lebih tinggi, demikian dikutip detikINET dari The Verge, Senin (6/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menggunakan wahana antariksa berlengan tiga untuk mengangkat satelit sejauh 150 mil di orbit tentu bukanlah perkara mudah. Namun, kecepatan Katalyst dalam merakit misi ini dinilai sangat mengesankan.

ADVERTISEMENT
  • Batas Waktu Ketat: NASA mengharuskan pihak perusahaan untuk bekerja ekstra cepat karena posisi Swift diproyeksikan akan menjadi terlalu rendah dan mustahil untuk diselamatkan pada bulan Oktober mendatang.
  • Investasi Penyelamatan: Hanya dalam waktu sembilan bulan persiapan dan menelan biaya sebesar USD 30 juta (sekitar Rp 488 miliar), misi bantuan penyelamatan akhirnya mengangkasa untuk menyelamatkan aset NASA yang bernilai hingga USD 500 juta (sekitar Rp 8,1 triliun) tersebut.

Sebagai informasi, Neil Gehrels Swift Observatory memiliki fungsi utama untuk mempelajari ledakan sinar gamma (gamma-ray bursts). Pengamatan ini menjadi salah satu instrumen penting bagi para ilmuwan dalam memahami fenomena pada masa-masa awal terbentuknya alam semesta.




(asj/asj)






Hide Ads