Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Danny Hilman Natawidjaja, menegaskan masih banyak ketidakpastian terkait sumber-sumber gempa di Jawa yang perlu diteliti lebih lanjut untuk meningkatkan akurasi penilaian bahaya dan risiko bencana.
Hal tersebut disampaikan dalam Workshop Advancing Multi-hazard Exposure Information in the Java Trench Region, Indonesia: For Enhanced Risk Assessment and Resilience yang diselenggarakan oleh Geoscience Australia bersama sejumlah lembaga Pemerintah Republik Indonesia di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Senin (8/6).
Dalam paparannya berjudul Tectonic Deformation in the Java Trench Region, Danny menjelaskan bahwa Pulau Jawa memiliki sistem sumber gempa yang kompleks. Selain zona subduksi atau megathrust di selatan Jawa, terdapat pula berbagai sesar aktif di daratan yang berpotensi memicu gempa merusak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pengetahuan kita mengenai sesar aktif di Jawa masih menyimpan banyak ketidakpastian. Ada sejumlah sesar yang sudah diketahui, tetapi karakteristik pentingnya seperti laju pergeseran, segmentasi, hingga magnitudo maksimum masih belum sepenuhnya dipahami," ujarnya dikutip Kamis (11/6/2026).
Salah satu struktur geologi yang menjadi perhatian adalah Java Back-Arc Thrust, sesar naik besar yang membentang dari wilayah Jakarta hingga Surabaya. Keberadaan sesar ini dinilai turut meningkatkan potensi bahaya gempa di bagian utara Jawa, yang selama ini kerap dianggap lebih aman dibanding wilayah selatan yang dipengaruhi zona subduksi.
Ia menjelaskan, peta bahaya gempa yang digunakan saat ini merupakan hasil interpretasi berbagai data geologi dan kegempaan yang terus berkembang. Karena itu, peta sesar aktif dan peta bahaya gempa bersifat dinamis dan terus diperbarui seiring munculnya temuan baru.
Tim BRIN, misalnya, baru-baru ini melakukan pemetaan rinci di kawasan sekitar Gunung Ciremai yang menghasilkan informasi baru terkait keberadaan sesar aktif serta perubahan segmentasi pada beberapa struktur patahan. Temuan ini berpotensi memengaruhi estimasi bahaya gempa pada skala lokal.
"Setiap bukti geologi baru dapat mengubah pemahaman kita mengenai sumber gempa. Dampaknya mungkin tidak terlalu besar pada skala regional, tetapi dapat signifikan bagi penilaian bahaya di tingkat lokal," jelasnya.
Lebih lanjut, Danny menegaskan bahwa ancaman gempa tidak hanya berupa guncangan tanah. Sesar aktif juga dapat memicu bahaya turunan seperti rekahan permukaan, longsor, likuefaksi, hingga tsunami lokal.
Ia menyoroti bahwa aspek rekahan permukaan sering kurang diperhatikan dalam perencanaan pembangunan. Padahal, infrastruktur vital seperti jalan tol, jalur kereta api, bendungan, pipa energi, hingga fasilitas publik berisiko terdampak jika berada tepat di atas jalur sesar aktif.
"Bangunan dapat dirancang agar lebih tahan terhadap guncangan gempa, tetapi sangat sulit merancang struktur yang mampu bertahan terhadap pergeseran permukaan tanah hingga beberapa meter akibat pergerakan sesar," katanya.
Menurutnya, sejumlah negara seperti Jepang, Selandia Baru, Amerika Serikat, dan Taiwan telah menerapkan kebijakan pembatasan pembangunan di zona sesar aktif. Namun di Indonesia, implementasi kebijakan serupa masih menghadapi tantangan akibat keterbatasan data detail mengenai lokasi dan karakteristik sesar.
Danny juga menekankan pentingnya integrasi data bahaya, paparan, dan kerentanan dalam kajian risiko bencana. Peningkatan kualitas data paparan dan kerentanan tidak akan optimal jika informasi sumber bahaya masih memiliki ketidakpastian tinggi.
"Risiko merupakan fungsi dari bahaya, paparan, dan kerentanan. Karena itu, peningkatan kualitas data bahaya, termasuk pemetaan sesar aktif dan pemahaman siklus gempa serta tsunami, menjadi fondasi penting untuk menghasilkan penilaian risiko yang lebih akurat," ungkapnya.
Lihat juga Video: Ancaman Gempa M 8,7, BMKG Gelar Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami
(agt/afr)


