Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Jamin Prediksi Cuaca Makin Akurat di Indonesia, Ini Sumber Data BRIN

Jamin Prediksi Cuaca Makin Akurat di Indonesia, Ini Sumber Data BRIN


Aisyah Kamaliah - detikInet

Salah satu perbedaan BRIN dan BMKG terletak pada logonya. Ini adalah logo Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memastikan prakiraan cuaca di Indonesia akan semakin akurat dengan memanfaatkan agentic AI. Foto: Situs BRIN
Jakarta -

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memastikan prakiraan cuaca di Indonesia akan semakin akurat dengan memanfaatkan agentic AI. BRIN mengembangkan Space Weather Intelligent Forecasting System (SWx AI) berbasis kecerdasan buatan yang diharapkan mampu menghadirkan prediksi cuaca antariksa yang lebih cepat, otomatis, dan valid.

Dengan masa habis data yang hanya untuk 24 jam, membuat prediksi cuaca BRIN dengan SWx AI menjadi lebih canggih dibanding sebelumnya.

Tiar Dani Peneliti Riset Antariksa Badan Riset dan Antariksa Nasional (BRIN) menjelaskan ada beberapa data yang diambil untuk membuat prediksi cuaca yang semakin akurat. Setidaknya ada 13 data yang diolah, antara lain.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

1. Proton Flux (SWPC NOAA)
2. Solar Wind IMF (Speed,Density and Bz) (SWPC NOAA)
3. Planetary Kp Index (SWPC NOAA)
4. Solar Indices and Radio (F10.7,SN, X-Ray BG) (SWPC NOAA)
5. CME Events (CACTUS SIDC)
6. Active Regions and Flares (SWPC NOAA)
7. Active Regions and Magnetic Complexity (SWPC NOAA)
8. Plages (SWPC NOAA)
9. Returning Regions (SWPC NOAA)
10. Global Radioburst (Type ll, Ill and IV)(SWPC NOAA)
11. Coronal Holes (SIDC)
12. Kyoto Dst Index (SWPC NOAA)
13. Calculate lonospheric Prediction.

SWPC NOAA (Space Weather Prediction Center - National Oceanic and Atmospheric Administration) adalah pusat pemantauan dan prediksi cuaca antariksa milik Amerika Serikat, sementara CACTus (Computer Aided CME Tracking) adalah perangkat lunak yang dikembangkan oleh SIDC (Solar Influences Data Analysis Center) Belgia untuk mendeteksi dan melacak Coronal Mass Ejections (CMEs) secara otomatis.

Data-data ini kemudian yang akan dimasukkan dan diolah ke dalam agentic AI serta ditinjau oleh pakar di BRIN dalam SWx AI.

"Dibangun dengan cara kerja sesuai di riset-riset antariksa, dengan memanfaatkan model-model dengan skema agentic tadi, kami membuat SWx AI untuk mencari data otomatis Matahari dan melihat prediksi dengan berbagai cara," ujar Dani dalam acara LINEAR - Kolokium Mingguan Pusat Riset Antariksa 'Automating Space Weather Services with Agentic AI', Rabu (13/5/2026).

"Mulai melihat gambar, melakukan summary, tujuannya menghindari halusinasi di desain dengan cara membatasi data temporal dan aturan-aturan yang sifatnya deterministic," sambungnya.

SWx AI memanfaatkan LLM Gemini 2.5 Flash dengan aturan data yang valid. BRIN menggunakan Gemini dengan maksud mengurangi beban kerja forecaster dan halusinasi. Sebagai penguat bahwa data forecasting akan lebih tepat, BRIN juga hanya mengolah data 24 jam terakhir.




(ask/ask)






Hide Ads