Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Tak Sengaja Injak Batu, Pendaki Temukan Dunia Purba Berusia 280 Tahun

Tak Sengaja Injak Batu, Pendaki Temukan Dunia Purba Berusia 280 Tahun


Tim - detikInet

Seorang wanita yang mendaki di Pegunungan Alpen Italia menemukan sebuah fragmen ekosistem berusia 280 juta tahun, lengkap dengan jejak kaki, fosil tanaman, bahkan jejak tetesan air hujan.
Foto: Elio Della Ferrera / Superintendency of Archaeology / Fine Arts and Landscape of the provinces of Como, Lecco, Monza-Brianza, Pavia, Sondrio and Varese / via Live Science
Jakarta -

Dua tahun lalu, tepatnya 2023, seorang pendaki tak sengaja menemukan sebuah fragmen ekosistem berusia 280 juta tahun. Bahkan apa yang ditemukannya ini lengkap dengan jejak kaki hewan purba, fosil tanaman, sampai bekas tetesan air hujan dari era Permian.

Pendaki wanita ini bernama Claudia Steffensen, yang berhasil menemukan 'dunia purba' tersebut ketika mendaki di Taman Pengunungan Valtellina Orobie di Lombardy, Italia. Saat itu, dirinya mengaku menginjak batu yang permukaannya memang dinilainya tak biasa.

"Saya kemudian melihat desain melingkar aneh dengan garis-garis bergelombang. Saya melihat lebih dekat dan menyadari bahwa itu adalah jejak kaki," kata Steffensen, seperti dikutip dari The Guardian, Selasa (21/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Setelah kejadian itu, batu yang ditemukan Steffensen langsung dianalisis para ilmuwan. Menurut hasil penelitian, terkonfirmasi bahwa jejak kaki yang ada di batu merupakan milik reptil prasejarah. Observasi pun diteruskan ke area dataran tinggi Alpen, dengan harapan bisa mendapatkan petunjuk atau temuan lain.

Seorang wanita yang mendaki di Pegunungan Alpen Italia menemukan sebuah fragmen ekosistem berusia 280 juta tahun, lengkap dengan jejak kaki, fosil tanaman, bahkan jejak tetesan air hujan.Para peneliti memindahkan fosil ke bahan putih seperti spons untuk transportasi pada 21 Oktober 2024. Foto: Elio Della Ferrera / Superintendency of Archaeology / Fine Arts and Landscape of the provinces of Como, Lecco, Monza-Brianza, Pavia, Sondrio and Varese / via Live Science Foto: undefined

Usai beberapa kali mendatangi situs tersebut, pada ahli paleontologi akhirnya menemukan bukti adanya keseluruhan ekosistem yang berasal dari periode Permian (299 juta hingga 252 juta tahun lalu). Periode geologis ini dikenal sebagai masa dengan perubahan iklim drastis, yang mengarah pada Great Dying. Sedikit informasi, Great Dying adalah peristiwa kepunahan massal yang memusnahkan sekitar 90% spesies di Bumi.

Bukti kehidupan kuno terpencar hingga ketinggian 3 ribu meter di pegunungan dan dasar lembah. Ekosistem yang terbentuk dari batu pasir berbutir halus ini dinilai tingkat pelestariannya sungguh luar biasa, berkat kondisinya yang sering terendam air di masa lalu.

Seorang Palentolog dari Pavia University yang menganalisis fosil tersebut, Ausonio Ronchi, menjelaskan proses pengawetan seperti jejak kaki terbentuk saat batu pasir dan serpih masih berupa pasir dan lumpur, yang kemudian terendam air di tepi sungai serta danau. Katanya, hal ini terjadi secara berkala sesuai musimnya, hingga akhirnya mengering.

"Matahari musim panas, yang mengeringkan permukaan tersebut, mengeraskannya hingga kembalinya air baru tidak menghapus jejak kaki tersebut, tetapi sebaliknya, menutupinya dengan tanah liat baru, membentuk lapisan pelindung," ujar Ronchi.

Butiran pasir dan lumpur yang dimaksud oleh Ronchi mampu mengawetkan detail-detail kecil pada jejak, bahkan termasuk bekas cakaran dan pola dari bagian bawah perut hewan. Diperkirakan jejak ini berasal dari lima spesies yang ukurannya cukup besar, kemungkinan sebanding dengan komodo modern hingga mulai 2-3 meter.

"Pada saat itu, dinosaurus belum ada, tetapi hewan yang bertanggung jawab atas jejak kaki terbesar yang ditemukan di sini pasti masih berukuran cukup besar," kata paleontolog vertebrata di Natural History Museum of Milan yang pertama kali dihubungi mengenai penemuan ini, Cristiano Dal Sasso.

Penemuan menarik ini terjadi berkat perubahan iklim modern, menyebabkan lapisan es dan salju di Pegunungan Alpen mencair. Para peneliti menyatakan, fosil-fosil ini menjadi saksi bisu periode geologis yang sangat jauh.




(hps/fay)





Hide Ads