Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Negeri yang Tidak Diklaim Siapapun: Bir Tawil

Negeri yang Tidak Diklaim Siapapun: Bir Tawil


Aisyah Kamaliah - detikInet

Bir Tawil.
Citra satelit Bir Tawil. Foto: NASA/Landsat 8/OLI via Wikimedia Commons
Jakarta -

Kalau kamu mencari Bir Tawil di Google Maps, tidak ada yang spesial dari wilayah ini. Daerahnya kecil, tidak beraturan, hanya setengah ukuran Rhode Island, tidak dapat dibedakan dari pasir dan bebatuan dari dua gurun yang mengapitnya. Meskipun ada di perbatasan antara Mesir dan Sudan, Bir Tawil bukan milik keduanya.

"Sejauh ini, Bir Tawil bisa dikatakan kosong," kata jurnalis Jonn Elledge dalam bukunya tahun 2024, A History of the World in 47 Borders.

Sulit untuk mengaksesnya karena Bir Tawil jauh dari pusat transportasi atau jalan raya. Kalau pun bisa ke sana, tempat itu bergunung-gunung, berbatu, dan panas. Tidak ada jalan atau rambu penunjuk arah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Konon, tidak ada pemerintahan baik dari Mesir atau Sudan, jadi tidak ada hukum. Paling aneh, disebut di sana tidak ada toko, hotel, sinyal telepon, dan tidak ada penduduk sama sekali.

Akan tetapi, kesaksian Dean Karalekas, seorang peneliti rekanan di Pusat Studi Austronesia Universitas Lancashire, yang mengunjungi Bir Tawil pada tahun 2020, malah berbeda. Sebuah kelompok masyarakat bernama Ababda telah mendiami daerah itu setidaknya sejak zaman Kekaisaran Romawi.

"Bahwa masyarakat ini telah mendiami daerah tersebut selama ribuan tahun tidak diragukan lagi," akunya.

Masyarakat nomaden asli ini bukanlah satu-satunya populasi di sana. Menurut Karalekas dalam memoarnya tahun 2020 tentang perjalanan ke Bir Tawil, 'The Men in No Man's Land', dia terkejut ketika menyadari betapa majunya daerah tersebut.

"Kami terkejut dengan betapa majunya daerah itu, dengan perkemahan permanen dan iring-iringan truk yang penuh dengan pekerja," tulisnya.

Sekarang pun, di Bir Tawil sudah ada penambang independen yang bekerja dengan detektor logam portabel kecil, hingga operasi penggalian tingkat industri yang canggih, dengan ekskavator, bor, trammel, dan pemisah.

Untuk melayani para penambang, terdapat beberapa toko dan restoran kecil, semuanya terletak berdekatan di pemukiman yang berfungsi penuh dengan jalan utama yang ramai.

Bir Tawil Banyak yang Coba Klaim

"Bir Tawil... sering digambarkan sebagai tanah tak bertuan terakhir di Bumi. Bir Tawil bukanlah tanah tak bertuan. Bahkan, wilayah ini sangat, sangat diklaim," ujar Elledge.

Setidaknya sembilan orang telah mengklaim kepemilikan Bir Tawil selama bertahun-tahun, kendati demikian tidak satu pun dari mereka diakui oleh PBB dan sebagian besar tidak pernah menginjakkan kaki di wilayah yang mereka klaim kuasai.

Yang paling terkenal mungkin adalah Jeremiah Heaton, seorang petani dari Virginia yang pada tahun 2014 melakukan perjalanan ke wilayah tersebut dan mendeklarasikannya sebagai Kerajaan Sudan Utara, dengan raja yang dimaksud adalah dirinya sendiri.

Saat itu, kisah tersebut dipaparkan sebagai cerita yang mengharukan. Motifnya, menurut klaimnya, adalah untuk mewujudkan impian putrinya yang masih muda untuk menjadi seorang putri sejati.

"(Para kepala suku Ababda) khawatir bahwa salah satu dari kita mungkin adalah Jeremiah Heaton," tutur Karalekas.

"Sangat wajar, mereka ingin menangkap 'orang bodoh' ini, seperti yang mereka sebut. Mereka tidak menyukai seorang pria dari negara asing yang mengaku sebagai raja mereka, dan yang tampaknya tidak ragu-ragu untuk mempromosikan haknya untuk memerintah secara daring dan di media internasional," imbuhnya.




(ask/fay)







Hide Ads