Peristiwa sampah antariksa melintasi langit Lampung pada Sabtu (4/4) malam adalah peringatan bahwa orbit Bumi tidak kosong. Bahkan, sampah antariksa terus bertambah.
Objek yang dikonfirmasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagai bagian roket Long March-3B milik China tersebut hanyalah satu dari ribuan objek di luar angkasa yang sewaktu-waktu bisa jatuh kembali ke atmosfer.
"Bekas roket Tiongkok tersebut meluncur dari arah India menuju Samudera Hindia di pantai barat Sumatra," kata Thomas Djamaluddin, peneliti ahli utama Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN dalam keterangan tertulisnya.
"Pada sekitar pukul 19.56 WIB ketinggiannya turun di bawah 120 km. Objek tersebut memasuki atmosfer padat, terus meluncur terbakar dan pecah. Itulah yang disaksikan warga sekitar Lampung dan Banten," rincinya.
Ibarat bom waktu, puing-puing yang berserakan di luar angkasa ini hanya tinggal menunggu waktu berjatuhan ke Bumi. Ancamannya pun kian mengkhawatirkan. Sampah luar angkasa memang menjadi isu penting yang sedang disorot terkait kemajuan teknologi luar angkasa.
Sejak perlombaan menuju luar angkasa antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet, negara lain banyak membuat satelit sendiri dan diluncurkan ke luar angkasa. Masalahnya, sedikit yang peduli soal nasib wahana antariksa itu usai misi sudah selesai.
Simak Video "Video Wujud Logam Diduga Puing Roket Seberat 500 Kg yang Jatuh di Kenya"
(rns/fay)