Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Perang Diprediksi Bikin Harga Plastik Meroket, Ini Sebabnya

Perang Diprediksi Bikin Harga Plastik Meroket, Ini Sebabnya


Fino Yurio Kristo - detikInet

5 Makanan Ini Sebaiknya Tidak Dikemas dengan Plastik Pembungkus
Foto: Shutterstock/
Jakarta -

Perang di Timur Tengah yang belum menampakkan tanda-tanda akan berhenti berdampak besar terhadap berbagai sektor, termasuk produksi plastik. Ahli memperingatkan konsumen akan menghadapi kenaikan harga pada berbagai barang konsumsi berbahan plastik akibat perang dengan Iran.

Produk plastik sebagian besar terbuat dari minyak bumi, yang harganya melonjak lebih dari 40% sejak awal perang. Akibatnya menurut Patrick Penfield, profesor rantai pasokan Universitas Syracuse, produk seperti alat makan sekali pakai, minuman kemasan, dan kantong sampah bisa jadi beberapa barang pertama yang naik harganya beberapa minggu mendatang.

Biaya pengemasan lebih tinggi dapat mengerek harga makanan dalam dua hingga empat bulan ke depan. Di industri seperti manufaktur otomotif, di mana plastik hanya salah satu dari sekian komponen bahan baku dan harganya sering dikunci dalam kontrak tetap, mungkin dibutuhkan waktu kurang dari setahun sebelum melonjak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di balik kenaikan ini adalah melonjaknya harga minyak dan gas alam terkait ancaman Iran terhadap pelayaran di Selat Hormuz. Jalur perairan ini memainkan peran krusial dalam rantai pasokan energi dan petrokimia global. Selat ini merupakan saluran seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global.

Lebih dari 99% plastik global berasal dari bahan bakar fosil. Menurut Center for International Environmental Law, ini berarti harga energi lebih tinggi tak hanya menaikkan biaya manufaktur, tapi juga biaya material itu sendiri. Ini termasuk polietilena (PE) dan polipropilena, dua jenis plastik yang paling banyak digunakan di dunia.

ADVERTISEMENT

Timur Tengah adalah pemasok utama bahan baku plastik. Wilayah ini menyumbang sekitar seperempat dari total ekspor polietilena dan polipropilena global, menurut data S&P Global Energy.

"Sekitar 84% kapasitas PE Timur Tengah bergantung pada selat tersebut untuk ekspor jalur laut," kata Harrison Jacoby, direktur polietilena di Independent Commodity Intelligence Services yang dikutip detikINET dari CNN.

Menurut Plastics Exchange, harga resin plastik bahkan telah melonjak hingga dua digit di sebagian besar kategori manufaktur dalam 30 hari terakhir. "Selama 25 tahun saya (berada di industri plastik), saya belum pernah melihat kenaikan (bulanan) PE sebesar ini," ungkap Michael Greenberg, CEO Plastics Exchange.

Plastik tertanam sangat kuat di berbagai industri, mulai pengemasan dan konstruksi hingga manufaktur mobil dan perawatan kesehatan. Beralih ke alternatif kertas atau kaca sering kali makan biaya besar dan menghabiskan waktu. Jadi dalam jangka pendek, tak banyak bahan pengganti plastik.

Produk yang sebagian besar bahannya terbuat dari plastik, seperti kantong sampah, kemungkinan mengalami kenaikan harga lebih tajam dibanding barang yang lebih kompleks seperti mobil, di mana plastik hanyalah salah satu dari banyak komponen.

Namun jika tingginya harga minyak bertahan hingga tiga atau empat bulan, konsumen dapat bersiap membayar harga lebih tinggi yang berpotensi berlangsung satu atau dua tahun ke depan. "Bahkan jika perang berakhir besok, masih perlu waktu cukup lama sebelum rantai pasokan kembali normal dengan sendirinya," ujar Greenberg.




(fyk/fay)






Hide Ads