Hancurnya pesawat E-3 Sentry milik Angkatan Udara AS dalam serangan Iran di sebuah pangkalan udara Arab Saudi, dinilai dapat merusak kemampuan AS untuk mendeteksi ancaman Iran yang datang dari jarak jauh.
Foto dramatis dari pesawat yang hancur tersebut, yang telah dipastikan CNN maupun media lain, menunjukkan bagian ekornya patah dan kubah radar berputarnya yang khas, bagian penting sistem peringatan dan kendali udara, tergeletak di Pangkalan Udara Prince Sultan Air Base.
Insiden ini dinilai pukulan serius. "Berpotensi berdampak pada kemampuan (AS) mengendalikan pesawat tempur dan mengarahkannya ke target atau melindungi mereka dari serangan pesawat musuh dan sistem rudal," ujar analis militer Cedric Leighton, mantan kolonel AU AS yang pernah terbang menggunakan pesawat tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
AWACS (airborne early warning and control system) memungkinkan pemantauan udara hingga 310 ribu km persegi ruang pertempuran dari darat ke stratosfer dan menjadi komponen vital pasukan AS selama beberapa dekade.
Pesawat E-3 adalah pos komando udara tangguh sekaligus platform pengawasan. Dikutip detikINET dari CNN, ia dapat melacak sekitar 600 target secara bersamaan, termasuk pesawat lain, rudal, drone besar, hingga tank di medan perang.
Personel di pesawat E-3 dapat meneruskan informasi pada komandan di lapangan, kapal, atau ke Pentagon secara real time. Adapun pengontrol di dalam AWACS dapat mengarahkan jet tempur pencegat ke arah ancaman yang datang atau mengirim pesawat serang untuk mendukung pasukan darat yang sedang diserang.
Sebuah laporan bulan ini dari Center for a New American Security menyebut AWACS sebagai 'quarterback' di medan pertempuran, yang lincah memberikan kesadaran situasional dan koordinasi real time. Laporan tersebut menyebut AWACS sebagai aset yang sangat diperlukan untuk operasi militer AS saat ini dan di masa mendatang.
Radar di pesawat E-3 Sentry. Foto: Wikipedia |
Peter Layton, peneliti di Griffith Asia Institute, mengatakan radar udara secara eksponensial meningkatkan waktu deteksi ancaman. Dalam konflik saat ini, sebuah E-3 mungkin dapat melihat drone Shahed Iran yang diluncurkan dari jarak 320 kilometer sekitar 85 menit lebih awal dari radar darat.
Karena mobile, AWACS dapat berpindah cepat ke area krisis baru dan menjadi target yang lebih sulit bagi musuh dibanding radar darat yang posisinya tetap. Analis pun mempertanyakan bagaimana AS bisa membiarkan pesawat E-3 rentan terhadap serangan Iran.
"Langkah-langkah luar biasa sering diambil untuk melindunginya dari tembakan musuh saat terbang. Terkadang pesawat ini mendapat pengawalan jet tempur dan tidak pernah diizinkan terbang melintasi wilayah musuh demi menjaganya tetap aman," kata Leighton.
Leighton juga mengatakan serangan itu mungkin mengindikasikan Iran mendapatkan bantuan dalam menargetkan aset utama AS. "Rusia kemungkinan besar memberi Iran koordinat geografis dan citra satelit yang memberikan lokasi presisi," katanya.
Serangan tersebut menunjukkan Iran selektif mengincar target bernilai tinggi. Para analis juga menyoroti ukuran dan usia armada E-3 AS serta beban berat yang ditimbulkan oleh operasi di Timur Tengah terhadap pesawat tersebut.
Pasokan E-3 sangat terbatas di armada AS, hanya tersisa 17 unit awal tahun ini. Jumlahnya lebih sedikit dibanding pesawat pengebom B-2 (20 unit). Selain itu, pesawat tersebut sudah tua. Pesawat pertama bergabung dengan armada Angkatan Udara tahun 1970-an.
Jet bermesin empat yang dirancang berdasarkan kerangka pesawat komersial Boeing 707 ini membawa empat awak penerbangan, ditambah 13 hingga 19 spesialis misi. Jumlahnya dapat berfluktuasi tergantung tugas yang dijalankan.
Pesawat tersebut bernilai sekitar sekitar USD 540 juta saat ini. AU AS telah mencari penggantinya, namun belum menetapkan platform yang pasti meskipun beberapa prototipe sedang dikembangkan.
AL AS mengoperasikan pesawat serupa namun jauh lebih kecil, yakni E-2 Hawkeye, yang dapat lepas landas dari kapal induk. Hawkeye bukan pengganti sepadan Sentry. Karena ukuran lebih kecil, Hawkeye awaknya lebih sedikit. Selain itu, karena menggunakan mesin turboprop, pesawat ini tidak dapat terbang setinggi Sentry.
(fyk/fay)
