Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Kenapa Manusia Satu-satunya Makhluk yang Punya Dagu?

Kenapa Manusia Satu-satunya Makhluk yang Punya Dagu?


Aisyah Kamaliah - detikInet

Ilustrasi cukur jenggot
Kenapa Manusia Satu-satunya Makhluk yang Punya Dagu? Foto: Getty Images/Nastasic
Jakarta -

Coba lihat kucing kamu atau hewan lainnya, apakah mereka punya dagu? Kelihatannya, cuma manusia satu-satunya spesies yang punya fitur wajah yang satu ini.

Kenapa manusia punya dagu, alasannya masih sulit dijawab. Bahkan, para ahli belum punya satu kesepakatan soal definisi dari dagu.

Melansir Live Science, meskipun beberapa peneliti berpendapat bahwa hewan seperti gajah dan manatee memiliki tonjolan seperti dagu, tonjolan tersebut bukanlah struktur berbentuk T yang menonjol di luar gigi bawah manusia. Akibatnya, beberapa ilmuwan telah beralih dari menganggap dagu sebagai satu ciri tunggal, dan lebih memilih menyebutnya sebagai hasil kolektif dari interaksi antara banyak bagian kepala dan rahang kita yang berbeda.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

"Banyak hal tentang dagu yang rumit," kata Scott A. Williams, seorang ahli morfologi evolusi di New York University.

"Dagu tidak dapat diukur dengan satu metrik tunggal, melainkan terdiri dari serangkaian fitur morfologis," sambungnya.

Pemahaman yang lebih baik tentang fungsi dagu nantinya dapat membantu para ilmuwan merumuskan definisinya. Para ahli telah mengusulkan beberapa kemungkinan fungsi dagu.

Sebagian berpendapat bahwa seiring evolusi gigi yang lebih kecil, dagu tampaknya memperkuat rahang bawah manusia dan mencegah gigi patah saat mengunyah. Yang lain percaya bahwa dagu mungkin terkait dengan ciri unik manusia lainnya seperti kemampuan untuk berbicara, dengan dagu sebagai titik tumpuan bagi otot lidah.

Beberapa orang lain mengatakan bahwa variasi dalam seberapa menonjol dagu manusia memberikan petunjuk bahwa hal itu mungkin terkait dengan seleksi seksual.

Noreen von Cramon-Taubadel, seorang ahli morfologi evolusi di University of Buffalo di New York, berupaya untuk mempersempit daftar tersebut dengan menentukan apakah dagu dapat berevolusi secara acak atau apakah evolusi telah bertindak langsung padanya.

Untuk melakukan itu, von Cramon-Taubadel dan timnya mempelajari puluhan sifat yang terkait dengan ukuran kepala dan rahang bawah, termasuk sembilan sifat yang terkait dengan dagu. Kemudian, menggunakan pohon evolusi dari 15 hominoid (kelompok yang mencakup manusia, nenek moyang fosil mereka, gorila, simpanse, orangutan, dan gibbon) mereka melihat apakah sifat-sifat tersebut telah berubah lebih banyak atau lebih sedikit dari waktu ke waktu.

Secara keseluruhan, hasil penelitian tim, yang diterbitkan dalam jurnal PLOS One, menunjukkan bahwa dagu mungkin merupakan apa yang dikenal sebagai spandrel -- istilah yang dipinjam dari arsitektur untuk menggambarkan fitur yang merupakan efek samping dari sesuatu yang lain.

Diciptakan oleh ahli biologi evolusi Stephen Jay Gould dan Richard Lewontin pada tahun 1979, konsep spandrel diperkenalkan untuk membantah pandangan bahwa setiap fitur harus memiliki tujuan spesifik yang telah berevolusi.

"Sebaliknya, tampaknya secara struktural, kita harus memiliki dagu, tetapi bukan karena dagu berevolusi untuk memiliki fungsi tertentu," ujar von Cramon-Taubadel kepada Live Science.

"Semakin banyak penelitian menunjukkan bahwa hal-hal yang dulu kita anggap sangat penting dalam hal perbedaan antara manusia dan kera lainnya sebenarnya dapat berevolusi hanya melalui pergeseran acak dan aliran gen," lanjutnya.

Terlepas dari kesimpulan tersebut, von Cramon-Taubadel dan Williams sepakat bahwa pertanyaan ini masih jauh dari terselesaikan. Misalnya, tidak diketahui kapan ciri-ciri seperti kemampuan berbicara pertama kali muncul, sehingga sulit untuk menghubungkannya dengan evolusi dagu.

"Itu tetap merupakan salah satu ciri khas garis keturunan kita yang hadir dalam beberapa bentuk pada setiap manusia yang hidup di planet ini saat ini," tutupnya.




(ask/afr)




Hide Ads