×
Ad

BRIN Ungkap Indonesia Berpotensi Jadi Produsen Satelit

Agus Tri Haryanto - detikInet
Jumat, 13 Mar 2026 10:15 WIB
Ilustrasi satelit. Foto: Jalopnik
Jakarta -

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan bahwa Indonesia dinilai perlu mengubah paradigma dalam industri antariksa, dari sekadar pembeli teknologi menjadi produsen satelit. Hal ini dianggap penting untuk memperkuat kemandirian teknologi sekaligus meningkatkan posisi Indonesia dalam ekosistem industri antariksa global.

Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (ORPA) di BRIN, Robertus Heru Triharjanto, mengatakan selama ini Indonesia masih lebih banyak berperan sebagai pengguna atau pembeli teknologi satelit dari negara lain.

"Indonesia masih lebih banyak berperan sebagai pembeli teknologi satelit, sementara nilai strategis terbesar justru berada pada negara produsen satelit dan penyedia layanan peluncuran," kata Heru dikutip dari pernyataan tertulisnya, Jumat (13/3/2026).

Menurutnya, para peneliti kini mulai membangun kemampuan nasional secara bertahap. Pada tahap awal, sebagian besar komponen satelit memang masih diperoleh dari luar negeri. Namun secara perlahan, pengembangan komponen satelit mulai dilakukan di dalam negeri.

Beberapa teknologi yang sudah mulai dikembangkan peneliti antara lain reaction wheel, star sensor, serta sistem kamera satelit. Komponen tersebut merupakan bagian penting dalam sistem navigasi dan pengamatan satelit di orbit.

Heru menilai, kemampuan memproduksi satelit sendiri akan memberikan dampak strategis bagi Indonesia. Selain memperkuat kemandirian teknologi, hal tersebut juga dapat mendorong terbentuknya pusat keahlian, memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri, hingga membuka peluang lahirnya industri satelit nasional.

"Program ini juga menjadi sarana pembelajaran bagi peneliti muda dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi melalui keterlibatan dalam proses perancangan, integrasi, hingga pengujian satelit," ujarnya.

Pengembangan teknologi satelit di Indonesia sendiri telah memiliki fondasi sejak pengoperasian satelit LAPAN-A1. Satelit tersebut mulai dikembangkan pada 2003 melalui kerja sama dengan Technical University Berlin.

Satelit tersebut kemudian diluncurkan pada 10 Januari 2007 menggunakan roket PSLV-C7 milik Indian Space Research Organisation dari Satish Dhawan Space Centre di Sriharikota, India.

Keberhasilan pengoperasian LAPAN-A1 menandai salah satu tonggak penting dalam pengembangan teknologi antariksa nasional. Menurut Heru, kemajuan teknologi satelit tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi, tetapi juga pada visi, kepemimpinan, serta kerja sama tim yang kuat.

Dengan penguatan riset dan kolaborasi yang berkelanjutan, Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi pengguna teknologi satelit, tetapi juga mampu tampil sebagai produsen dalam industri antariksa global



Simak Video "Video: Peneliti Indonesia Temukan Lukisan Goa Berumur 67 Ribu Tahun!"

(agt/afr)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork