Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Mengenal Bandar Antariksa Biak, Lokasi Peluncuran Satelit Dekat Khatulistiwa

Mengenal Bandar Antariksa Biak, Lokasi Peluncuran Satelit Dekat Khatulistiwa


Agus Tri Haryanto - detikInet

Cantiknya Pantai Yendidori di Biak
Foto: Melati Raya Sihotang/d'Traveler
Jakarta -

Indonesia terus mematangkan rencana memiliki bandar antariksa sendiri. Salah satu lokasi yang sejak lama digadang-gadang paling ideal adalah Biak, Papua, yang kini kembali mencuat usai pernyataan terbaru dari Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria.

Secara geografis, Biak dinilai memiliki keunggulan yang sulit ditandingi daerah lain di Indonesia. Letaknya yang dekat dengan garis khatulistiwa membuat peluncuran roket dan satelit lebih efisien karena membutuhkan bahan bakar lebih sedikit.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Faktor tersebut menjadi alasan utama banyak negara maju membangun pusat peluncuran di wilayah ekuator. Beruntungnya, Indonesia memiliki potensi tersebut yang lokasinya di Biak.

Selain itu, kawasan Biak juga memiliki bentang alam yang relatif terbuka dan menghadap langsung ke Samudra Pasifik. Kondisi tersebut dinilai lebih aman untuk jalur peluncuran, karena risiko jatuhnya sisa roket ke wilayah pemukiman bisa ditekan seminimal mungkin.

ADVERTISEMENT

Adapun dari sisi strategis, keberadaan bandar antariksa di Papua juga dipandang dapat memperkuat posisi Indonesia dalam peta keantariksaan global.

Rencana pembangunan bandar antariksa Biak sebenarnya bukan hal baru. Gagasan ini sudah dibahas sejak era Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) sebelum kemudian bertransformasi menjadi bagian dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Namun, berbagai tantangan, mulai dari kesiapan infrastruktur, pembiayaan, hingga sinkronisasi kebijakan, membuat realisasinya berjalan bertahap.

Meski demikian, pemerintah menilai proyek ini bukan sekadar soal peluncuran satelit. Bandar antariksa Biak juga diproyeksikan menjadi pusat ekosistem riset, pengembangan teknologi roket, satelit, hingga industri pendukung yang dapat mendorong ekonomi lokal dan nasional. Kehadirannya diharapkan membuka lapangan kerja baru serta mempercepat transfer teknologi ke dalam negeri.

Optimisme kembali menguat setelah Kepala BRIN Arif Satria menegaskan ambisi Indonesia untuk mempercepat kemandirian teknologi antariksa nasional, salah satunya pengembangan bandara antariksa nasional.

Arif menilai target kemandirian yang selama ini dipatok hingga 2040 masih bisa dipercepat, asalkan seluruh pemangku kepentingan fokus dan bekerja secara produktif.

Penegasan tersebut disampaikan Arif saat melakukan kunjungan kerja ke Kawasan Sains M. Ibnoe Subroto, Rancabungur, Rabu (31/12/2025). Kunjungan ini difokuskan pada kesiapan fasilitas riset keantariksaan, persiapan peluncuran Satelit A4, serta pengembangan bandar antariksa sebagai fondasi strategis kedaulatan teknologi nasional.

"Kita tidak boleh setengah-setengah. Kalau bisa sebelum 2040, mengapa tidak lebih cepat? Kuncinya fokus, alokasi waktu, dan produktivitas," ujar Arif saat itu.




(agt/agt)







Hide Ads