Bumi diperkirakan akan kembali membentuk superkontinen atau superbenua dalam sekitar 200 juta tahun mendatang, menurut model iklim dan pergerakan lempeng tektonik terbaru. Dalam skenario ini, semua kontinental akan menyatu kembali menjadi satu daratan raksasa.
Kondisi ini mirip dengan Pangea yang pernah ada puluhan juta tahun lalu. Tentunya, perubahan geografis ini diperkirakan akan membawa dampak serius pada iklim planet. Berdasarkan penelitian, ada empat versi utama bagaimana superkontinen masa depan bisa terbentuk, yaitu Novopangea, Pangea Proxima, Aurica, dan Amasia.
Dalam skenario Aurica, semua benua digabungkan di dekat khatulistiwa jika Samudera Atlantik dan Pasifik tertutup oleh aktivitas subduksi, yang diprediksi akan menghasilkan iklim hangat dengan suhu lebih tinggi dibanding saat ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jika Samudera Atlantik dan Pasifik tertutup, semua benua akan menyatu menjadi satu superkontinen besar di sekitar ekuator," kata JoΓ£o C. Duarte, Asisten Profesor Tektonik, University of Lisbon, Portugal, dikutip dari Popular Mechanics.
Model iklim juga digunakan untuk mempelajari konsekuensi iklim dari superkontinen tersebut. Dalam salah satu studi yang dijalankan dengan superkomputer NASA, para peneliti memasukkan konfigurasi benua masa depan sebagai input untuk simulasi perubahan iklim jangka panjang.
"Kami tidak sepenuhnya memahami bagaimana perubahan tata letak daratan yang drastis akan merespons atmosfer dan samudera, tetapi simulasi ini menunjukkan bahwa letak benua memengaruhi arus lautan dan iklim global secara signifikan," ujar Michael Way, ilmuwan fisika di NASA Goddard Institute for Space Studies.
Dampak Terhadap Iklim
Simulasi menunjukkan bahwa letak geografis superkontinen dapat menentukan apakah planet akan relatif lebih dingin atau lebih hangat.
Dalam skenario seperti Amasia, dengan daratan terkumpul di sekitar kutub, arus laut yang memindahkan panas dari ekuator akan terganggu, berpotensi menyebabkan iklim jauh lebih dingin dan es menutupi wilayah luas Bumi.
Sebaliknya, Aurica yang berada dekat ekuator akan meningkatkan pemanasan global karena lebih banyak wilayah daratan terkena panas Matahari langsung dalam waktu lebih lama, menjadikan iklim global lebih hangat.
Walau skenario-skenario ini masih berada jauh di masa depan dan dipenuhi ketidakpastian, para ilmuwan sepakat bahwa perubahan posisi benua secara drastis sangat memengaruhi iklim global, terutama melalui dinamika arus samudera, perubahan tingkat karbon dioksida, dan penataan ulang pola hujan dan angin di seluruh planet.
Penelitian-penelitian model iklim semacam ini membantu para ilmuwan memahami bagaimana iklim Bumi bisa berevolusi dalam skala waktu geologis, sekaligus memberikan wawasan berharga tentang bagaimana konfigurasi daratan masa depan dapat membuat planet ini sangat berbeda dari Bumi yang kita kenal sekarang.
(rns/rns)