Sebuah penelitian baru mengungkap bahwa kemarau panjang yang berlangsung ratusan tahun mungkin menjadi salah satu penyebab utama kepunahan Homo floresiensis, manusia purba bertubuh kecil yang dikenal sebagai hobbit dari Pulau Flores, Indonesia.
Studi ini menggunakan rekaman kimia dalam stalagmit gua serta data isotop dari gigi gajah kerdil yang menjadi mangsa utama mereka untuk merekonstruksi pola iklim purba di kawasan tersebut.
Menurut hasil yang dipublikasikan dalam jurnal Communications Earth & Environment, periode kekeringan ini dimulai sekitar 76 ribu tahun yang lalu dan semakin menguat menjadi masa yang sangat kering antara 61 ribu hingga 55 ribu tahun lalu, bertepatan dengan periode ketika fosil-fosil Homo floresiensis tak lagi ditemukan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pakar paleoklimat dan penulis utama studi ini, Dr Mike Gagan, Honorary Professor di University of Wollongong, menggambarkan perubahan kondisi iklim tersebut sebagai faktor penentu nasib spesies kecil ini.
"Ekosistem di sekitar Liang Bua menjadi jauh lebih kering sekitar saat Homo floresiensis lenyap," kata Gagan seperti dikutip dari Science Daily.
"Curah hujan musim panas turun dan dasar sungai menjadi kering secara musiman, memberikan tekanan besar pada hobbit dan mangsanya," imbuhnya.
Para peneliti menarik data dari stalagmit gua Liang Bua yang merekam variasi curah hujan selama ribuan tahun, serta melakukan analisis isotop oksigen pada gigi fosil gajah kerdil (Stegodon florensis insularis). Kedua catatan ini secara konsisten menunjukkan adanya tren pengeringan drastis, yang membuat sumber air tawar dan sumber makanan menjadi semakin langka.
Selain memengaruhi Homo floresiensis secara langsung melalui kekurangan air dan makanan, perubahan iklim ini juga mungkin memaksa mereka berpindah tempat.
"Persaingan untuk air dan makanan yang semakin minim kemungkinan memaksa hobbit untuk meninggalkan Liang Bua," ucap Dr Gert van den Berg, Honorary Fellow di University of Wollongong yang juga turut meneliti.
Temuan ini memberikan pandangan baru tentang bagaimana salah satu spesies manusia purba di Asia Tenggara menghadapi perubahan iklim ekstrem, bukan hanya kompetisi dengan Homo sapiens, tetapi juga kondisi lingkungan yang berubah secara dramatis.
(rns/rns)