Ilmuwan sudah menaruh perhatian pada lubang gravitasi di Antartika sejak lama. Sebenarnya, apa itu lubang gravitasi dan mengapa semakin menguat?
Dari ruang angkasa, Bumi tampak seperti 'kelereng biru' yang halus, tetapi sebenarnya dia lebih mirip jeruk yang sedikit berkerut. Bagian dalam yang padat di beberapa bagian, tetapi lebih lunak di bagian lain.
Planet ini bukanlah bola sempurna dan kepadatan internalnya bervariasi di seluruh dunia, maka dari itu gaya gravitasinya berubah dari satu tempat ke tempat lain. Di tempat yang memiliki massa lebih sedikit di geologi dasarnya, gravitasi lebih lemah, dan sebaliknya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penurunan medan gravitasi ini secara formal dikenal sebagai anomali gravitasi, tetapi lebih umum disebut 'lubang gravitasi'. Yang terbesar ditemukan di tengah Samudra Hindia, membentang lebih dari 3 juta kilometer persegi, sedangkan yang terkuat ditemukan di Antartika.
Dalam sebuah studi baru, dua ahli geofisika telah memetakan lubang gravitasi Kutub Selatan dengan harapan dapat mengungkap bagaimana lubang tersebut berkembang selama jutaan tahun. Studi ini diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports.
Untuk mencapai hal ini, keduanya menggabungkan rekaman gempa bumi global dengan pemodelan berbasis fisika untuk membuat peta 3D kepadatan mantel Bumi. Hasilnya sangat sesuai dengan pengukuran gravitasi standar emas yang dikumpulkan oleh satelit.
Visualisasi model gravitasi ini dibuat dengan data dari Eksperimen Pemulihan Gravitasi dan Iklim (GRACE) NASA dan menunjukkan variasi medan gravitasi Bumi. Foto: NASA/JPL/University of Texas Center for Space Research |
"Bayangkan melakukan CT scan seluruh Bumi, tetapi kita tidak memiliki sinar-X seperti yang kita miliki di kantor medis. Kita memiliki gempa bumi. Gelombang gempa bumi memberikan 'cahaya' yang menerangi bagian dalam planet," kata Alessandro Forte profesor geofisika di University of Florida dan salah satu penulis studi baru tersebut, dalam sebuah pernyataan.
Peta tersebut menunjukkan bahwa lubang gravitasi Antartika telah ada setidaknya selama 70 juta tahun, sejak zaman dinosaurus menguasai Bumi. Namun, lubang gravitasi tersebut tidak tetap konstan. Anomali gravitasi mulai menguat antara 50-30 juta tahun yang lalu, kurang lebih bertepatan dengan periode ketika Antartika tertutupi gletser.
Melansir IFLScience, glasiasi permanen Antartika dimulai sekitar 34 juta tahun yang lalu. Di tengah penurunan kadar karbon dioksida, suhu planet pun turun. Sementara itu, pergeseran lempeng tektonik menciptakan arus laut besar yang mengalir searah jarum jam dari barat ke timur mengelilingi benua tersebut, memisahkannya dari perairan hangat.
Tampaknya gravitasi, geologi, dan gletser Antartika semuanya saling terkait erat. Para peneliti berspekulasi bahwa perubahan permukaan laut, yang disebabkan oleh pergerakan lambat jauh di dalam Bumi di bawah Antartika, mungkin telah memengaruhi kondisi yang dibutuhkan agar lapisan es mulai terbentuk. Perubahan permukaan laut ini terjadi karena pergeseran medan gravitasi Bumi dan pergerakan permukaan daratan, keduanya didorong oleh proses di mantel.
"Jika kita dapat lebih memahami bagaimana interior Bumi membentuk gravitasi dan permukaan laut, kita akan mendapatkan wawasan tentang faktor-faktor yang mungkin penting bagi pertumbuhan dan stabilitas lapisan es besar," tambah Forte.
"Bagaimana iklim kita terhubung dengan apa yang terjadi di dalam planet kita?" tanyanya.
Namun, penting untuk dicatat bahwa ini adalah masalah yang sangat berbeda dari perubahan iklim modern yang didorong oleh bahan bakar fosil. Proses-proses yang membentuk Antartika ini berlangsung selama jutaan tahun, jauh lebih lambat daripada pemanasan cepat yang disebabkan oleh emisi gas rumah kaca saat ini.
Kendati demikian, memahami semua ini dapat membantu para ilmuwan menyusun sejarah jangka panjang iklim Bumi dan memberikan gambaran tentang masa depannya.
(ask/ask)


