Benua Afrika secara bertahap sedang terbelah menjadi dua. Sebagaimana sebagian besar proses geologis, peristiwa ini berlangsung dengan kecepatan yang sangat lambat selama jutaan tahun.
Seiring berjalannya waktu, dikutip detikINET dari IFL Science, fenomena ini dapat menyebabkan bagian Afrika Timur memisahkan diri dari sisa benua tersebut, dan kemungkinan besar akan melahirkan samudra baru di antara kedua daratan itu.
Perpecahan besar ini terkait dengan Sistem Retakan Afrika Timur (East African Rift System/EARS), salah satu zona retakan terbesar di dunia, yang membentang sejauh ribuan kilometer melintasi sejumlah negara Afrika, termasuk Ethiopia, Kenya, Republik Demokratik Kongo, Uganda, Rwanda, Burundi, Zambia, Tanzania, Malawi, dan Mozambik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sistem retakan ini menandakan bahwa lempeng Afrika sedang terbelah menjadi dua, yaitu lempeng Somalia yang lebih kecil dan lempeng Nubia yang lebih besar. Menurut studi tahun 2024, keduanya saling menjauh dengan kecepatan sangat lamban, yakni beberapa milimeter per tahun.
Tahun 2018, berita munculnya retakan di Kenya sempat viral, di mana banyak pihak mengklaimnya bukti Afrika patah menjadi dua tepat di depan mata kita. Meski memang pemandangan ini berkaitan dengan EARS, agak menyesatkan untuk menyajikannya sebagai bukti langsung dari proses perpecahan besar Afrika tersebut.
Kejadian tersebut kemungkinan hanyalah manifestasi yang sangat terlokalisasi dari aktivitas peretakan biasa di lembah tersebut. EARS telah menjalani proses ini selama sekitar 25 juta tahun, dan retakan di Kenya itu hanyalah petunjuk tak langsung dari apa yang sedang terjadi di benua tersebut.
Namun dalam 5 hingga 10 juta tahun lagi, perubahan pada EARS dapat menghasilkan wajah dunia yang sangat berbeda secara drastis. Dalam kurun waktu tersebut, kemungkinan terbentuk samudra baru di antara lempeng Somalia dan lempeng Nubia. Benua besar Afrika akan kehilangan 'bahu' bagian timurnya dan sebuah laut yang luas akan memisahkan Afrika Timur.
Perlu diingat bahwa permukaan Bumi berada dalam kondisi yang terus berubah. Hanya saja prosesnya sangat lambat sehingga tidak bisa dirasakan dalam masa hidup manusia.
Rupa dunia seperti yang kita kenal sekarang ini relatif baru. Daratan dan lautan hari ini, Eurasia, Amerika, Afrika, Antartika, dan Oseania, adalah produk lempeng tektonik luas yang tersusun rapat layaknya kepingan puzzle. Dengan sangat perlahan, kepingan-kepingan puzzle ini bergerak dalam skala waktu jutaan tahun.
Bayangkan saja perpecahan yang dialami Bumi sekitar 138 juta tahun lalu ketika Amerika Selatan dan Afrika terpisah. Jika melihat pantai barat Afrika dan pantai timur Amerika Selatan, keduanya pas satu sama lain seperti dua keping puzzle, memperlihatkan benua-benua ini dulunya pernah menyatu. Lepasnya Afrika Timur hanyalah akan menjadi bab lain dalam buku sejarah geologi yang panjang ini.
(fyk/afr)