Manusia, hewan, tumbuhan, hingga jamur yang ada di Bumi ternyata memiliki satu nenek moyang yang sama. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa seluruh kehidupan kompleks di planet ini dapat ditelusuri kembali yang mengerucut pada kelompok mikroba purba bernama Asgard archaea. Para ilmuwan menjulukinya 'Asgardian', terinspirasi dari cerita trilogi Thor, salah satu karakter Marvel.
Temuan ini memperkuat pemahaman tentang bagaimana kehidupan rumit pertama kali muncul di Bumi, yakni dari organisme bersel sederhana hingga makhluk dengan struktur sel yang jauh lebih kompleks.
Akar Evolusi yang Sama
Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Nature pada 2023 itu, para peneliti dari University of Texas di Austin, Texas, Amerika Serikat, menyebutkan bahwa secara kasat mata, manusia, kuda nil, kupu-kupu, jamur, ragi, dan pakis tampak sama sekali tidak berhubungan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun secara biologis, semuanya termasuk dalam kelompok eukariota, organisme yang selnya memiliki inti sel yang terbungkus membran. Eukariota mencakup hampir seluruh kehidupan kompleks yang kita kenal saat ini, mulai dari hewan dan tumbuhan hingga jamur dan alga.
Siapakah 'Asgardian'?
Asgard archaea adalah kelompok mikroba purba yang hidup di lingkungan ekstrem, seperti sedimen laut dalam dan sumber panas Bumi. Selama bertahun-tahun, ilmuwan menduga bahwa eukariota berevolusi dari archaea, tetapi bukti genetik yang kuat baru benar-benar terlihat dalam kelompok Asgard ini.
"Semua eukariota yang dikenal saat ini dapat ditelusuri kembali ke satu garis keturunan archaea yang dikenal sebagai Asgard archaea," tulis para penelit seperti dikutip dari IFL Science, Minggu (28/12/2025).
Penelitian terbaru juga mengidentifikasi kelompok baru bernama Hodarchaeales, bagian dari Asgard archaea, yang menunjukkan ciri-ciri transisi antara archaea sederhana dan sel eukariota yang lebih kompleks.
Beberapa anggota Asgard archaea memiliki protein yang sebelumnya dianggap hanya dimiliki oleh eukariota, termasuk protein yang berperan dalam pembentukan struktur sel kompleks.
"Yang paling menarik bagi saya adalah kita mulai melihat transisi dari organisme yang dianggap sebagai archaea, menuju Hodarchaeales yang jauh lebih mirip dengan eukariota," kata Profesor Brett Baker, salah satu penulis dan profesor bidang ilmu kelautan dan biologi integratif.
Hal ini menunjukkan bahwa evolusi sel kompleks bukan lompatan tiba-tiba, melainkan proses bertahap yang berlangsung selama jutaan hingga miliaran tahun.
"Saya selalu bercanda menyebut bahwa kita semua adalah 'Asgardian'. Mungkin saja sebutan itu juga bakal ada di batu nisan saya nantinya," kelakar Baker.
Awal Mula Kehidupan Kompleks
Peneliti lain, Valerie De Anda yang merupakan ahli biologi di University of Texas, menggambarkan penelitian ini sebagai cara untuk melihat ke masa lalu.
"Bayangkan sebuah mesin waktu, bukan untuk menjelajahi zaman dinosaurus atau peradaban kuno, tetapi untuk menelusuri reaksi metabolisme yang mungkin memicu lahirnya kehidupan kompleks," ujarnya.
Alih-alih mengandalkan fosil, ilmuwan mempelajari jejak genetik yang masih tersimpan dalam mikroba purba ini untuk memahami asal usul kehidupan kompleks.
Temuan ini memperkuat gagasan bahwa semua hewan, tumbuhan, dan jamur di Bumi berasal dari satu nenek moyang bersama. Asgard archaea bukan sekadar mikroba aneh dari lingkungan ekstrem, melainkan kunci untuk memahami bagaimana kehidupan kompleks bermula.
Penelitian ini juga membantu ilmuwan menyusun ulang 'pohon kehidupan' dan memperjelas hubungan evolusi antara organisme sederhana dan makhluk kompleks seperti manusia.
(rns/hps)