Mengenal Zona Kematian Pendaki di Gunung Everest

Mengenal Zona Kematian Pendaki di Gunung Everest

ADVERTISEMENT

Mengenal Zona Kematian Pendaki di Gunung Everest

Aisyah Kamaliah - detikInet
Selasa, 17 Jan 2023 12:00 WIB
Anggota staf Departemen Survei menghadiri pengumuman virtual soal ketinggian Gunung Everest di Kathmandu pada 8 Desember 2020. Keputusan itu mengakhiri debat selama beberapa dekade dengan diputuskan ketingguan Gunung Everest kini 8.848.86 mdpl atau 86 cm lebih tinggi ketimbang yang ditetapkan Nepal sebelumnya atau 4 meter di bawah pengakuan resmi China sebelumnya. (Photo by PRAKASH MATHEMA / AFP)
Foto: AFP/PRAKASH MATHEMA
Jakarta -

Jatuhnya pesawat Yeti Airlines di Nepal mengingatkan akan kerawanan wilayah ini. Medan Nepal yang bergunung-gunung menjadi tantangan tersendiri bagi para pilot yang terbang melewatinya.

Nepal adalah tempat bagi 8 dari 14 gunung tertinggi di dunia, termasuk Gunung Everest salah satunya. Kondisi ini membuat pesawat sulit dinavigasi terutama saat cuaca buruk. Ini juga salah satu alasan mengapa sering terjadi kecelakaan pesawat di Nepal.

Berbicara tentang Gunung Everest, gunung tertinggi di dunia ini jadi destinasi favorit mendaki. Tapi tidak semua orang bisa bertahan, apalagi di 'zona kematian' yang berada di ketinggian 8.000 meter di atas permukaan laut. Gunung Everest memiliki tinggi 8.848 meter di atas permukaan laut.

Di tahun 2019, sedikitnya ada 11 orang yang meninggal dunia di Everest, kebanyakan tidak bernyawa di area 'Zona Kematian'. Berikut ini adalah hal-hal yang bisa terjadi ketika mendaki Gunung Everest di 'Zona Kematian' melansir Science Alert.

1. Susah bernapas

Di daratan permukaan laut, udara mengandung 21% oksigen. Namun, di atas 3.657 meter lebih, diperkirakan molekul oksigennya turun 40% per napas.

Ada yang bilang, mendaki Gunung Everest sangat sulit bernapas. Rasanya seperti berlari di atas treadmill dan bernapas melalui sedotan.

2. Tubuh beradaptasi

Berada di medan yang jauh berbeda dengan keseharian membuat tubuh butuh beradaptasi. Pertama, hemoglobin menjadi bertambah produksi. Hemoglobin adalah protein di sel darah merah yang membantu membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh.

Tapi, terlalu banyak hemoglobin tidak baik. Ini bisa membuat sulitnya memompa darah ke seluruh tubuh. Darah menjadi lebih kental yang mana mengarah pada peningkatan risiko stroke dan penyakit lain.

Ada pun kondisi high altiture pulmonary edema (HAPE) sering terjadi. HAPE adalah penumpukan cairan di paru-paru yang menyebabkan gangguan fungsi organ.

3. Otak membengkak

Salah satu faktor risiko terbesar di ketinggian 7.900 meter lebih adalah hipoksia, kurangnya sirkulasi oksigen yang memadai ke organ seperti otak. Jika otak tidak mendapatkan oksigen yang cukup, otak dapat mulai membengkak, menyebabkan kondisi yang disebut dengan high altitude cerebral edema (HACE).

Pembengkakan ini bisa memicu mual, muntah, serta kesulitan berpikir dan bernalar. Otak yang kekurangan oksigen dapat menyebabkan pendaki lupa di mana mereka berada dan mengalami delirium yang oleh beberapa ahli dianggap sebagai bentuk psikosis ketinggian.

4. Dan risiko lainnya...

Akan banyak kesulitan yang dihadapi ketika mendaki Gunung Everest terutama di 'Zona Kematian'. Di sana, orang bisa mengalami penurunan berat badan, kehilangan pandangan sementara, hingga muntah-muntah dan insomnia.

Karena itu, bisa dipastikan orang yang ingin mendaki Gunung Everest harus memiliki kemampuan fisik yang baik. Kalau kamu bagaimana, tertarik mendaki Gunung Everest, detikers?



Simak Video "Detik-detik Sesaat Sebelum Jatuhnya Pesawat di Nepal Terekam Kamera!"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT